
Serangan Angkatan Udara Israel terhadap ibu kota Iran, Teheran, pada 23 Juni 2025. (Mohammadjavad Alikhani via Wikimedia Commons)
JawaPos.com - Setelah hampir dua pekan dihantam gelombang serangan udara dari dua arah, Israel dan Iran akhirnya sepakat untuk menghentikan saling serang.
Kesepakatan gencatan senjata ini diumumkan pada Selasa (24/6) pagi waktu setempat, menyusul inisiatif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengklaim telah mendorong kedua belah pihak menuju meja damai.
“Gencatan senjata kini berlaku. Tolong jangan melanggarnya!” tulis Trump dalam unggahan media sosialnya, beberapa jam sebelum pernyataan resmi dirilis oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Dalam keterangannya, Netanyahu menegaskan bahwa keputusan menerima proposal gencatan senjata diambil setelah “tujuan operasi militer tercapai sepenuhnya,” dan bahwa langkah ini dilakukan “dalam koordinasi penuh dengan Presiden Trump.”
Meski demikian, Netanyahu memperingatkan bahwa Israel tidak akan tinggal diam jika kesepakatan dilanggar. “Israel akan merespons dengan kekuatan penuh terhadap setiap pelanggaran,” katanya.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa gencatan senjata mulai berlaku setelah pukul 07.30 GMT, waktu yang sebelumnya disebut Trump sebagai batas dimulainya gencatan senjata.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa Teheran memanfaatkan setiap menit terakhir untuk melancarkan gelombang serangan penutup.
“Operasi militer dari Angkatan Bersenjata kami yang kuat untuk menghukum Israel atas agresinya berlanjut hingga menit terakhir,” tulis Araghchi di media sosial.
Ketenangan semu mulai terasa pada Selasa pagi, setelah Iran melepaskan enam gelombang rudal yang disebut sebagai “serangan pamungkas.”
Sebelumnya, Israel telah menggempur sejumlah fasilitas nuklir Iran pada 13 Juni, dengan alasan bahwa Teheran hampir mencapai kemampuan senjata nuklir. Trump juga mengklaim hal serupa sebagai dasar serangan udara AS terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Konflik ini sempat memanas lebih jauh setelah Iran membalas dengan menghantam pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar. Ketegangan tersebut sempat memunculkan kekhawatiran akan pecahnya perang besar di Timur Tengah, dengan dampak global yang tidak terhindarkan.
Di sisi lain, gencatan senjata dengan Iran memicu desakan baru dari oposisi politik di Israel agar pemerintah segera menghentikan konflik berkepanjangan di Gaza.
“Dan sekarang Gaza. Saatnya menyelesaikannya juga. Bawa pulang para sandera, akhiri perang ini,” tulis pemimpin oposisi Yair Lapid mengutip Al-Jazeera.
Namun tidak semua pihak di Israel menyambut baik gencatan senjata dengan Iran. Politikus garis keras dari Partai Likud, Dan Illouz, mengecam kesepakatan ini sebagai bentuk kelemahan.
“Rezim di Iran bukanlah rezim yang bisa diajak bersepakat. Itu adalah rezim yang harus dikalahkan,” tulisnya. “Jika tidak dikalahkan, Iran akan menemukan cara baru untuk menyerang Israel,” lanjutnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
