
Wali Nanggroe Aceh, Tgk Malik Mahmud Al Haythar, menanggapi kasus yang menimpa salah satu warganya yakni Imam Masykur.
JawaPos.com - Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Al Haythar mengajak seluruh masyarakat Aceh menjadikan peringatan Hari Damai Aceh ke-21 sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan, menjaga ketenteraman, serta memperkuat komitmen dalam mempertahankan perdamaian. Seruan tersebut disampaikan dalam peringatan 21 tahun penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Kesepakatan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia, itu dinilai menjadi salah satu tonggak terpenting dalam perjalanan sejarah Aceh.
Menurut Malik Mahmud, lahirnya perjanjian Helsinki menunjukkan keberanian dan kebijaksanaan kedua pihak dalam memilih jalur dialog sebagai upaya mengakhiri konflik, serta membangun masa depan Aceh.
“MoU Helsinki bukan sekadar mengakhiri konflik yang berkepanjangan, tetapi juga membuka ruang bagi rekonsiliasi, pembangunan, demokrasi, serta lahirnya tatanan kehidupan yang lebih damai dan bermartabat bagi seluruh rakyat Aceh,” kata Malik Mahmud dalam seruannya, sebagaimana dikutip dari Rakyat Aceh (Jawa Pos Grup), Minggu (16/8).
Ia menuturkan, terciptanya perdamaian turut memulihkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap Aceh. Kondisi tersebut kemudian membuka peluang bagi berbagai negara dan lembaga internasional untuk memberikan dukungan, termasuk dalam pemulihan sosial-ekonomi masyarakat dan pembangunan infrastruktur setelah bencana tsunami.
Selama lebih dari dua dekade, Aceh juga mengalami sejumlah perubahan di tengah kondisi yang relatif damai. Pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, peningkatan sektor pendidikan dan kesehatan, serta perbaikan tata kelola pemerintahan menjadi bagian dari perkembangan yang dapat dirasakan masyarakat.
Selain itu, suasana damai turut membuka ruang bagi semakin luasnya kerja sama Aceh, baik dengan pemerintah daerah maupun pihak-pihak dari tingkat nasional dan internasional.
Meski demikian, Malik Mahmud mengakui perjalanan perdamaian Aceh tetap menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah pada 26 November 2025 dan berdampak terhadap kehidupan masyarakat serta menimbulkan kerusakan di berbagai wilayah.
Di tengah kondisi tersebut, semangat perdamaian kembali tercermin melalui solidaritas dan gotong royong masyarakat. Kepedulian antarsesama menjadi kekuatan penting bagi masyarakat Aceh untuk menghadapi dampak bencana sekaligus bangkit melanjutkan pembangunan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Israel: The Green Army Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Deltras FC vs Persiba: Leonard Tupamahu Hafal Gaya Main Tamu
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Prediksi Susunan Pemain Yunani vs Jerman: Klopp Butuh Sentuhan Wirtz
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022