
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi. (RianAlfianto/JawaPos.com)
JawaPos.com - Iran tengah berduka namun tak gentar. Serangan udara Israel sejak Jumat (13/6) menewaskan lebih dari 20 pejabat militer dan ilmuwan senior Iran, termasuk tokoh kunci dalam program nuklir dan pertahanan negara.
Namun dalam pernyataan tegas yang mengguncang panggung diplomasi global, Iran menyatakan siap membalas dengan kekuatan penuh berkat sistem kaderisasi yang telah dirancang selama puluhan tahun.
Hal itu disampaikan langsung oleh Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Dia menegaskan bahwa darah para syuhada takkan sia-sia, karena setiap posisi strategis yang ditinggalkan langsung diisi oleh penerus yang sudah disiapkan lama sebelumnya.
“Satu, sepuluh, bahkan seratus pejabat diteror oleh rezim Zionis Israel, itu tidak akan menghentikan arus perlawanan kami. Kami telah menyiapkan kader mereka sejak lama. Iran tidak bisa dipatahkan hanya dengan pembunuhan,” tegas Boroujerdi saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Selasa (17/6).
Beberapa tokoh yang gugur dalam serangan tersebut adalah:
- Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata
- Mayor Jenderal Hossein Salami, Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC)
- Mayor Jenderal Gholam Ali Rashid, Panglima Markas Besar Khatam Al Anbiya
- Amir Ali Hajizadeh, Komandan Pasukan Antariksa
- Fereydoon Abbasi-Davani & Mohammad Mehdi Tehranchi, Ilmuwan kunci dalam proyek nuklir Iran
Walaupun elite militer dan ilmuwannya tewas, Boroujerdi memastikan Teheran tetap berdiri tegak. Menurut Boroujerdi, Iran tidak hanya membangun kekuatan militer, tapi juga sistem regenerasi kepemimpinan yang sistematis dan terstruktur.
“Begitu satu pejabat gugur, penggantinya langsung naik. Kami tidak menunggu. Pelatihan militer, politik, bahkan saintifik, sudah dijalankan sejak mereka muda. Ini bukan kekuatan individu, ini kekuatan sistem," tegasnya.
Dubes Boroujerdi juga menyebut taktik yang digunakan Israel sebagai “strategi pembantaian elite” atau rapid offensive strategy, sebuah metode serangan cepat yang dimulai dengan eliminasi tokoh-tokoh penting negara lawan, untuk melumpuhkan kepemimpinan secara instan.
“Kami menyaksikan strategi pengecut ini di Gaza dan Lebanon. Kini mereka terapkan ke Iran. Tapi Israel salah besar jika mengira Iran tak siap,” ujarnya tajam.
Dengan kehilangan elite militer dan ilmuwan sekaligus, banyak pihak memprediksi Iran akan melancarkan serangan balasan yang tidak terduga. Beberapa analis bahkan menyebut situasi ini sebagai “pra-kondisi perang regional” yang bisa membesar menjadi krisis global.
Namun Iran yakin, mereka tak akan goyah. Sebab, yang dihancurkan adalah tubuh, bukan semangat perjuangan. Dan semangat itu, kata Boroujerdi, sudah diwariskan ke generasi penerus.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
