Kementerian Kesehatan Turki mengatakan bahwa Beth meninggal karena serangan jantung yang disebabkan oleh kegagalan banyak organ. Namun, mereka tidak menjelaskan secara rinci apa pemicu kegagalan tersebut.
Pihak Turki juga membantah pernyataan forensik Inggris, dengan menegaskan bahwa Beth tidak menjalani operasi atau pembedahan apa pun saat menjalani autopsi di rumah sakit tempat ia meninggal.
Kini keluarga Beth mempertanyakan apakah dokter di Rumah Sakit Universitas Marmara, Istanbul, telah membuat kesalahan. Mereka menduga bisa saja Beth diberi suntikan penisilin tanpa mengetahui bahwa ia memiliki alergi terhadap obat itu.
Baca Juga: Mantan Pramugari Tertangkap Menyelundupkan 45 Kg Narkoba Mematikan yang Terbuat dari Tulang Manusia
Dilansir dari New York Post, rumah sakit tersebut saat ini tengah dalam proses penyelidikan terkait kematian Beth.
Petugas forensik di Inggris memperkirakan akan membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk mengetahui penyebab pasti mengapa organ-organ tubuh Beth tiba-tiba berhenti berfungsi.
(*)





