Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Maret 2025 | 21.55 WIB

Trump Menghentikan Bantuan, Situasi Semakin Genting Bagi Ukraina?

Ilustrasi tank Rusia di Ukraina. (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi tank Rusia di Ukraina. (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Donald Trump telah menjabat kembali sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) selama hampir dua bulan. Kebijakan yang diambilnya cukup mengejutkan dunia, dengan langkah-langkah yang tampak sangat berbeda dibandingkan para pemimpin sebelumnya.

Di lain sisi, Ukraina sudah berperang melawan Rusia selama tiga tahun lamanya. Korban di kedua belah pihak ditaksir sudah mencapai ratusan ribu jiwa dan terus akan bertambah. Selama tiga tahun pula, Ukraina memiliki ketergantungan baik secara militer, politis, dan bantuan kemanusiaan dari negara-negara Barat terutama AS dalam melawan invasi Rusia.

Presiden AS sebelumnya, Joe Biden, memiliki hubungan erat dengan Ukraina dan secara aktif memberikan dukungan dalam menghadapi invasi Rusia. Namun, kebijakan ini tidak selalu mendapat dukungan dari masyarakat AS dan Partai Republik. Salah satu penentang utama bantuan ke Ukraina berasal dari Partai Republik itu sendiri, yaitu Donald Trump

Dilansir dari apnews.com, terpilihnya Trump kembali sebagai Presiden AS secara non-consecutive terms—sesuatu yang sebelumnya hanya terjadi pada Presiden Grover Cleveland—membawa perubahan besar dalam kebijakan luar negeri AS.

Dilantik pada 20 Januari 2025, Trump segera menerapkan kebijakan yang lebih agresif, termasuk perang dagang dengan Kanada, Meksiko, Tiongkok, dan Uni Eropa. Ia juga mengusulkan rencana kontroversial untuk mengusir penduduk Gaza dan membeli wilayah tersebut agar menjadi bagian dari AS.

Bagi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, kekhawatiran terhadap perubahan kebijakan AS akhirnya menjadi kenyataan. Setelah pertemuan yang menegangkan dengan Trump di Gedung Putih pada akhir Februari, Zelensky dikejutkan oleh keputusan Trump yang memerintahkan penghentian bantuan militer ke Ukraina. Dilansir dari edition.cnn.com, pada 3 Maret lalu, Trump memerintahkan penghentian bantuan militer ke Ukraina dengan efek langsung. Langkah ini memperburuk kondisi tentara Ukraina yang sudah mengalami kekurangan amunisi dan senjata di medan perang.

Tak berhenti di situ, hanya dua hari kemudian, AS juga menghentikan bantuan intelijen bagi Ukraina. Keputusan ini, yang dilansir dari NBC News, berdampak besar terhadap strategi militer Ukraina. Tanpa dukungan intelijen AS, kemampuan Ukraina untuk menyerang wilayah Rusia menjadi terbatas, sementara pertahanan mereka dari serangan udara dan drone Rusia juga semakin melemah.

Mendengar semakin gentingnya pasukan Ukraina, para pemimpin Eropa untuk mengadakan pertemuan darurat di London guna membahas langkah selanjutnya. Negara-negara Eropa khawatir bahwa jika AS benar-benar menarik dukungannya dari Ukraina, maka Rusia akan semakin agresif dan mungkin mengancam negara-negara lain di Eropa.

Sementara itu, hingga artikel ini ditulis, pasukan Ukraina mulai terdesak dan dipukul mundur di Donetsk, Ukraina, dan di Kursk—wilayah Rusia yang sempat diduduki Ukraina sejak Agustus 2024. Ukraina awalnya merebut Kursk sebagai "alat tukar" untuk wilayah mereka yang diduduki Rusia, namun kini strategi itu tampaknya tidak lagi menguntungkan.

Blogger militer dari kedua belah pihak mengatakan bahwa posisi Ukraina semakin terdesak. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah merebut kembali empat permukiman dalam beberapa hari terakhir, yaitu Malaya Loknya, Cherkasskoye, Porechnoye, dan Kositsa.

Menurut blogger Russia, Yuriy Kotenok, pasukan Rusia juga terus melancarkan serangan ke arah Suzdha, membuat pasukan Ukraina terancam terkepung. Ia mengklaim bahwa pasukan Ukraina akan segera menarik diri dari Kursk.

Sementara itu, blogger Ukraina, Sternenko, mengatakan bahwa tentara Ukraina telah mengalami masalah logistik yang cukup kritis. Sternenko melanjutkan bahwa suhu dingin menjadi tantangan tambahan yang memperlambat pergerakan pasukan.

Blogger militer dari dua pihak yang berbeda sudah mengatakan bahwa Ukraina mengalami masalah yang cukup serius di Kursk. Jika pasukan Ukraina tidak segera mundur dari Kursk, mereka berisiko kehilangan jalur pasokan dan dikepung sepenuhnya oleh Rusia.

Kyiv kini telah kehilangan 50% dari wilayah yang sebelumnya mereka kuasai di Kursk. Dengan kondisi yang semakin tidak menguntungkan, nilai strategis wilayah ini bagi Ukraina pun semakin berkurang. Dalam beberapa hari ke depan, keputusan besar harus diambil, akankah Ukraina mempertahankan wilayah ini atau menarik mundur pasukannya demi mempertahankan sumber daya untuk pertempuran di lokasi lain? (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore