Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 26 Desember 2023 | 16.20 WIB

Kartu Kredit Ditinggalkan, Tren Penggunaan Uang Tunai Melonjak, Anak Muda Korea Selatan Membatasi Pengeluaran

Inflasi yang sangat tinggi membuat anak muda lebih mengencangkan dompet./Instagram Kim Ji Hye - Image

Inflasi yang sangat tinggi membuat anak muda lebih mengencangkan dompet./Instagram Kim Ji Hye

JawaPos.com - Terlepas dari kemajuan digital dan lonjakan transaksi online, tren menggunakan uang tunai paling menonjol muncul di kalangan warga Korea Selatan yang berusia 20 hingga usia 30.

Karena semakin banyak dari kaum milenial dan Gen Z, yang memilih untuk menggunakan uang tunai dalam bentuk fisik, dibandingkan dengan kartu kredit dalam kehidupan sehari-hari.

Metode "cash stuffing" disebut sebagai penganggaran yang melibatkan penarikan uang tunai dari rekening bank.

Uang tunai tersebut akan kembali dipisahkan ke dalam amplop khusus untuk kategori yang berbeda, seperti bahan makanan, belanja, makan di luar, dan lainnya.

Tren ini semakin populer di kalangan anak muda, yang ingin menekan pengeluaran mereka yang berlebihan dan melawan efek nontunai (kecenderungan untuk melakukan lebih banyak pembelian saat pembayaran dirasa tidak terlalu nyata).

Metode ini membatasi pengeluaran, sesuai dengan jumlah yang dialokasikan dengan cara yang nyata secara fisik

"Saya menghabiskan sekitar 1 juta won atau sekitar Rp 11 juta, hanya untuk biaya pengantaran makanan."

"Tetapi setelah beralih ke pembayaran tunai, pengeluaran saya turun hampir 70 persen," ungkap Kim Ji Hye, 32 tahun, kepada The Korea Herald.

"Sebelumnya, sebagian besar penghasilan saya digunakan untuk membayar tagihan kartu kredit."

"Tetapi sejak mulai menabung, tabungan saya meningkat dari nol menjadi 1,2 juta won atau sekitar Rp 14 juta setiap bulannya," ujar Yang Eun Bi, seorang perancang web profesional yang berusia 33 tahun.

Sementara itu, beberapa orang seperti Kang yang berusia 24 tahun, bahkan sampai memotong kartu kredit mereka menjadi dua sebagai simbol komitmen.

Menurut Choi Su Ji, seorang YouTuber yang secara teratur mempublikasikan video tentang upaya penganggarannya, mengungkapkan justru ketidaknyamananlah yang membantu mengatasi pengeluaran yang tidak perlu.

"Anda harus menelepon setiap kali perlu memesan makanan di restoran. Karena ketidaknyamanan ini, saya secara bertahap beralih memasak di rumah."

Dia menambahkan bahwa, sebelumnya sebagian besar pengeluarannya berasal dari aplikasi pengantaran makanan.

"Namun, dengan uang tunai, sulit untuk mengandalkan staf pengantaran untuk memiliki uang kembalian yang tepat."

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore