Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Januari 2022 | 00.11 WIB

Kematian Omicron Lebih Rendah dari Delta, Ahli AS: Jangan Berpuas Diri

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Selama periode liburan akhir tahun, kasus Covid-19 meroket. Beruntungnya tingkat rawat inap dan kematian tetap relatif rendah di tengah meluasnya varian Omicron.

Direktur CDC, dr. Rochelle Walensky mengungkapkan data rawat inap menurun meski kasus naik. Kesenjangan rawat inap menambah bukti yang menunjukkan bahwa meski sangat menular, gejala dari varian Omicron ringan.

"Omicron dapat menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah dibandingkan varian sebelumnya, termasuk Delta," jelas Walensky.

Hal senada diungkapkan ahli penyakit menular AS dr. Anthony Fauci. Menurutnya gejala Omicron memang lebih ringan. Meski begitu ia mengingatkan agar masyarakat jangan menganggap sepele.

"Semua indikasi menunjukkan tingkat keparahan yang lebih rendah dari Omicron dibanding Delta," kata dr. Anthony Fauci.

"Tapi, kita tidak boleh berpuas diri karena sistem rumah sakit kita masih bisa tertekan di beberapa bagian negara sementara banyak orang jatuh sakit sekaligus," tegas Fauci.

Omicron adalah varian dominan, tetapi Delta masih bertanggung jawab atas sejumlah besar kasus rawat inap dan kematian di AS menurut data terbaru dari CDC. Sebuah studi pendahuluan dari Hongkong menemukan bahwa Omicron bereplikasi lebih cepat di bronkus (yang membawa udara dari tenggorokan ke paru-paru). Namun, varian ini menunjukkan tingkat keparahan penyakit yang lebih rendah.

Studi lain, pada data rumah sakit dari Afrika Selatan, menemukan bahwa gelombang yang digerakkan oleh Omicron menghasilkan masa rawat inap yang lebih pendek, lebih sedikit penerimaan ICU dan lebih sedikit kebutuhan akan oksigen tambahan dibandingkan dengan gelombang pandemi sebelumnya. Pada konferensi pers minggu lalu, Fauci merujuk informasi tambahan yang menunjukkan Omicron menyebabkan penyakit yang lebih ringan dibandingkan dengan Delta.

"Jadi kesimpulannya, data menggembirakan tapi dalam banyak hal masih awal," kata Fauci.

Orang yang tidak divaksinasi tetap sangat rentan terhadap penyakit parah dan kematian yang disebabkan oleh Covid-19 apa pun variannya. Data pada Oktober 2021, orang yang tidak divaksinasi 14 kali lebih mungkin meninggal karena Covid-19 dibandingkan dengan orang yang divaksinasi penuh.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore