Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Desember 2023 | 20.22 WIB

Berani Coba Hakarl? Hidangan Daging Hiu Fermentasi yang Berbau Busuk dari Islandia

Daging hiu yang sedang digantung selama proses difermentasi. (All that - Image

Daging hiu yang sedang digantung selama proses difermentasi. (All that

JawaPos.com – Proses fermentasi makanan memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Selain tape, keju, maupun tempe, ikan juga menjadi salah satu makanan yang dapat diolah dengan cara fermentasi.

Di Islandia, terdapat hidangan yang menggunakan daging ikan hiu yang difermentasi dan masuk ke dalam ‘hidangan terburuk di dunia’ nomor 3 menurut TasteAtlas pada Februari 2023 dengan nilai 1,9, yang kini menjadi 1,6 dari 5.

Kæster Hákarl atau Hakarl merupakan sajian ikan hiu yang difermentasi, tepatnya menggunakan daging hiu greenland.

Hiu greenland merupakan salah satu spesies hiu terbesar dan banyak ditemukan di Samudra Atlantik Utara dan Samudra Arktik.

Hidangan nasional Islandia tersebut dibuat dengan mengawetkan daging hiu dengan proses fermentasi tertentu dan menjemurnya selama empat hingga lima bulan.

Mereka yang sudah ahli dapat mengetahui kapan proses fermentasi Hakarl selesai adalah ketika muncul bau amonia.

Rasa amisnya yang sangat kuat, serta rasa yang agak pahit dan asam dari Hakarl tidak cocok bagi beberapa orang.

Karena aromanya yang sangat busuk, Hakarl juga disebut sebagai hiu busuk (rotten shark).

Mendiang Anthony Bourdain, seorang juru masak selebriti, pernah mengungkapkan bahwa Hakarl menjadi satu-satunya makanan yang rasanya paling buruk, paling menjijikkan, dan mengerikan yang pernah dia makan.

Tak hanya Bourdain, seorang juru masak selebriti lainnya, Gordon Ramsay bahkan mengaku tidak bisa menelan makanan tersebut.

Hakarl dapat dengan mudah ditemukan di supermarket Islandia sepanjang tahun.

Hakarl disajikan selama festival pertengahan musim dingin Thorrablot.

Hidangan tersebut disajikan bersama dengan makanan tradisional Islandia lainnya dan berlangsung dari pertengahan Januari hingga pertengahan Februari.

Asal kemunculan hidangan tersebut bermula dari kondisi pertanian di wilayah subarktik Islandia yang tidak menguntungkan.

Oleh sebab itu, penduduk Islandia harus mencari cara untuk bertahan hidup meski ketersediaan pangan rendah.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore