
KORBAN SIPIL: Dokter membawa jenazah seorang anak yang terbungkus kain kafan di luar RS di Khan Younis, Sabtu (18/11).
JawaPos.com – Israel belum berhasil membuktikan tuduhannya bahwa RS Al Shifa di Jalur Gaza dipakai sebagai pusat komando Hamas. Juga di bawahnya ada terowongan rahasia.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sudah memasuki RS terbesar di Gaza itu sejak Rabu (15/11), namun hingga kemarin (18/11) mereka hanya mendapati ribuan pasien dan pengungsi.
’’Mereka tidak menemukan apa pun. Mereka tidak menemukan satu pun perlawanan. Tidak ada satu pun tembakan yang diarahkan ke mereka di dalam area rumah sakit,’’ ujar dokter Ahmed El Mokhallalati yang bekerja di RS Al Shifa sepeti dikutip Al Jazeera.
Israel mengatakan, pihaknya masih berupaya mengungkap adanya infrastruktur terowongan. Juru bicara militer Israel Jonathan Conricus mengklaim benda-benda bergerak seperti senjata bisa dengan mudah disingkirkan sebelum pasukan Israel tiba.
Menurut dia, tentara IDF di kompleks RS Al Shifa mencari satu gedung pada satu waktu dan menggeledah setiap lantai, sementara ratusan pasien dan staf medis masih berada di dalam kompleks.
Sejak serbuan IDF ke RS Al Shifa, sudah ada 24 pasien yang tewas. Bukan karena ditembak, melainkan suplai listrik di RS tersebut sudah tidak ada lagi lantaran kekurangan bahan bakar. Imbasnya, pasien dengan luka parah yang berada di ICU tidak bisa bertahan.
Situasi kian mencekam karena IDF meminta agar semua orang di RS Al Shifa meninggalkan kompleks tersebut. Termasuk dokter, pasien, dan pengungsi yang berada di sana.
Beberapa bahkan ditodong dengan senjata agar segera hengkang. Mereka diberi waktu satu jam. Padahal, ada lebih dari 7 ribu orang di RS tersebut. Evakuasi pasien juga tidak bisa dilakukan tanpa ambulans. Sebab, mayoritas pasien mengalami luka parah. Banyak di antaranya yang harus diamputasi karena terkena ledakan bom.
Israel lewat unggahan di X mengklaim tidak memberikan perintah evakuasi. Menurut mereka, itu adalah permintaan direktur RS Al Shifa untuk mengizinkan warga Gaza yang berlindung di rumah sakit agar pergi dengan aman.
Namun, paparan IDF itu dibantah oleh Dirjen RS di Gaza Mohammed Zaqout. ’’Saya beri tahu Anda bahwa kami dipaksa pergi dengan todongan senjata,’’ tegasnya. Dirjen Kementerian Kesehatan Gaza Munir al-Barsh dan Kepala Ortopedi di RS Al Shifa Adnan al-Barsh memberikan penjelasan yang sama.
Para pengungsi diperintahkan pergi pukul 09.00 waktu setempat dan berjalan dalam satu baris sembari melambaikan kain putih. Dokter al-Barsh mengungkapkan, sekitar 450 pasien dievakuasi, sedangkan 120 pasien lainnya yang tidak bisa bergerak terpaksa tetap tinggal bersama 5 dokter, termasuk Direktur RS Al Shifa Mohammed Abu Salmiya.
Kemarin IDF juga menyerang Sekolah al-Fakhoora di Gaza Utara. Sekolah yang dikelola oleh UNRWA itu terletak di kamp pengungsian Jabalia. Setidaknya 50 orang tewas dalam serangan tersebut. Serangan lainnya terjadi di permukiman penduduk di Khan Younis yang menewaskan 26 orang. (sha/c6/eko)

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
