Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 November 2023 | 22.36 WIB

Menanti Takdir di Rumah Sakit Al-Shifa Gaza, Jebakan Bualan Israel untuk Selamatkan Bayi hingga Pengungsi Gali Kuburan Massal

Kepulan asap terlihat di atas rumah sakit Al-Shifa yang halamannya penuh dengan pengungsi. (REUTERS) - Image

Kepulan asap terlihat di atas rumah sakit Al-Shifa yang halamannya penuh dengan pengungsi. (REUTERS)

JawaPos.com - Warga sipil Palestina yang kini terjebak di dalam rumah sakit Al-Shifa, sedang menggali kuburan massal pada Selasa (14/11) untuk pasien meninggal yang mulai membusuk di bawah kepungan militer Israel, dan mengungkapkan bahwa rencana untuk mengeluarkan bayi-bayi itu nihil meski Israel mengumumkan bakal mengirim inkubator portabel.

Diketahui sebelumnya, bahwa militer Israel telah mengepung rumah sakit Al-Shifa yang berada di kota Gaza, yang menurut mereka terdapat pusat komando dan markas kelompok militan Palestina, Hamas, di bawah rumah sakit itu.

Hamas telah menyangkal tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa terdapat 650 pasien serta 5.000 hingga 7.000 warga sipil yang mengungsi di dalam rumah sakit, yang kini statusnya berubah menjadi 'terjebak'.

Mereka kini berada di halaman rumah sakit di bawah pantauan penembak jitu dan drone milik Israel yang sensitif terhadap pergerakan.

Dalam beberapa hari terakhir,  telah dilaporkan bahwa terdapat 40 pasien yang meninggal, termasuk tiga bayi prematur yang inkubatornya dimatikan ketika aliran listrik diputus.

Lima minggu setelah Israel melancarkan agresi militernya yang diklaim sebagai pembalasan serangan Hamas pada 7 Oktober silam, kini tindakan keji pasukan zionis terhadap rumah sakit yang merupakan fasilitas kemanusiaan, menjadi fokus dan sorotan Internasional, bahkan dari sekutu terdekatnya sendiri, Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Ashraf Al-Qidra, saat dihubungi melalui telepon di dalam kompleks rumah sakit, mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari 100 mayat yang mulai membusuk di dalam rumah sakit Al-Shifa dan tidak ada cara untuk mengeluarkannya.

"Kami berencana menguburkan mereka hari ini di kuburan massal dalam kompleks medis Al-Shifa. Ini akan sangat berbahaya karena kami tidak memiliki penutup atau perlindungan dari ICRC, tapi kami tidak punya pilihan lain untuk jenazah para korban yang mulai membusuk," katanya dikutip dari Reuters, Selasa (14/11).

"Orang-orang (warga sipil Palestina yang ada di kompleks rumah sakit Al-Shifa) itu sedang menggali saat kita sedang berbicara," imbuhnya menerangkan apa yang terjadi di dalam rumah sakit yang kini disebut sebagai 'rumah kematian' karena tidak beroperasi sebagaimana mestinya dan jumlah pasien meninggal naik drastis.

Dr. Ahmed El Mokhallalati, seorang ahli bedah di rumah sakit Al Shifa, mengatakan kepada Reuters melalui telepon bahwa risiko utama saat ini adalah dari pembusukan mayat.

“Kami yakin bahwa semua jenis infeksi akan menular dari penyakit itu. Hari ini kami mengalami sedikit hujan, benar-benar mengerikan, bahkan tidak ada yang bisa membuka jendela, atau hanya berjalan di koridor dengan bau yang sangat tidak enak," ungkapnya.

Selain itu, 36 bayi sudah meninggalkan bangsal neonatal usai tiga bayi meninggal akibat inkubator yang mati karena tidak ada aliran listrik. Kini, bayi-bayi yang dikeluarkan dari bangsal tersebut dibariskan di atas tempat tidur, dijaga agar tetap hangat dengan sebaik mungkin.

Sebelumnya, Israel diketahui telah mengumumkan bakal menyelamatkan para bayi dengan menawarkan inkubator portabel bertenaga baterai agar bayi-bayi itu dapat dievakuasi, namun Qidra mengatakan bahwa sampai detik ini belum ada pengaturan yang dibuat untuk melakukan penyelamatan semacam itu.

"Kami tidak keberatan jika bayi-bayi itu dipindahkan ke rumah sakit mana pun, di Mesir, di Tepi Barat, atau bahkan ke rumah sakit pendudukan Israel. Yang paling kami pedulikan adalah kesejahteraan dan kehidupan bayi-bayi tersebut," ujarnya setengah putus asa.

"Penjajah masih mengepung rumah sakit dan mereka terus menembaki halaman rumah sakit. Kami masih belum bisa bergerak, tapi terkadang dokter mengambil risiko ketika mereka harus merawat pasien," imbuh juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza tersebut.

Editor: Nicolaus
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore