Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 November 2023 | 03.51 WIB

Seorang Pengusaha asal Singapura Ditembak Sekitar 20 Kali dengan Senapan Angin di Thailand

Seorang pengusaha asal Singapura dilaporkan diserang oleh lima orang di Thailand, dan ditembak sekitar 20 kali dengan senapan angin. - Image

Seorang pengusaha asal Singapura dilaporkan diserang oleh lima orang di Thailand, dan ditembak sekitar 20 kali dengan senapan angin.

JawaPos.com - Seorang pengusaha asal Singapura dilaporkan diserang oleh lima orang di Thailand, dan ditembak sekitar 20 kali dengan senapan angin. Dia juga dipukul dengan botol anggur di bagian kepala, setelah itu istri dan anaknya diculik.

Insiden tersebut terjadi pada tanggal 8 Maret 2022, kata pria itu kepada Shin Min Daily News dalam sebuah wawancara (17/10).

Pria asal Singapura bernama Liang, beserta istri dan anaknya diserang oleh lima orang di vila mereka yang terletak di Mae Sot, sebuah kota di Thailand bagian barat dan berbatasan langsung dengan Myanmar.
 
Liang yang berusia 47 tahun tersebut mengungkapkan, bahwa dia pergi ke Thailand untuk berbisnis sejak tahun 2018 dengan menjual produk perawatan kesehatan.
 
Dia bertemu dengan istrinya di negara tersebut dan kemudian menginvestasikan hampir 200.000 dolar Singapura, atau sekitar dua miliar rupiah untuk memulai bisnis toko kelontongnya.
 
Setelah itu, istrinya memperkenalkan Liang kepada seorang pria, Chairat Setthiwanit yang berusia 29 tahun untuk mendiskusikan bisnis jual-beli mobil, tetapi pada akhirnya keduanya memutuskan untuk tidak bekerja sama.
 
Ketika pandemi melanda, Liang tidak dapat terbang ke Thailand. Saat itulah ia menyadari bahwa istrinya, dan Chairat mulai sering berinteraksi.
 
Liang semakin curiga dengan hubungan mereka berdua, dan memutuskan untuk terbang ke Thailand pada bulan September 2021. Liang mengatur sedemikian rupa, agar seseorang menjemput istri dan anaknya dari Mae Sot untuk pindah ke Bangkok.
 
Liang menjelaskan kepada sang istri ingin pergi dengan Chairat, dia tidak akan menahannya. Namun, istrinya mengklaim bahwa Chairat adalah seorang gangster lokal, dan ia dipaksa untuk ikut.

Selama beberapa bulan setelah itu, keluarga yang terdiri dari tiga orang ini kembali ke Mae Sot dan hidup tanpa insiden atau gangguan apapun.
 
Pada tanggal 8 Maret 2022, Chairat dan adik laki-lakinya, Chajita yang berusia 22 tahun, bersama tiga orang lainnya, memanjat tembok kediaman Liang pada malam hari.
 
Kelima orang tersebut penyusup ke kamar tidur utama, di dekat kolam renang dan menendang pintu kayu.
 
Ketika mereka masuk ke kamar, Chairat dan Chajita menembak Liang dengan senapan angin, sementara tiga orang lainnya meninju dan menendang pria asal Singapura tersebut.
 
Liang juga dipukul kepalanya dengan botol anggur merah. Istrinya berlutut dan memohon kepada Chairat agar tidak menyakiti suaminya. Chairat diduga memerintahkan istri dan anaknya untuk pergi bersamanya, dan meninggalkan Liang sendirian.
 
Pada saat itu, Liang sudah berlumuran darah namun masih sadar. Dia kemudian menghubungi teman-temannya untuk menolongnya, dan mereka membawanya ke polisi dan rumah sakit.

Liang mengalami cedera kepala yang serius, yang membutuhkan 36 jahitan. Dia ditemukan menderita lebih dari 20 luka tembak di tubuhnya, dua berada di dekat tulang rusuk kirinya, satu di dada kiri, dan 17 luka tembak lainnya di punggung.
 
"Untungnya saat itu saya mengenakan handuk, jika tidak lukanya akan lebih dalam," jelas Liang.
 
Liang dinyatakan menderita luka tembak sekitar 0,5 cm, empat luka di kepala, dan mengalami memar di mata kirinya.
 
Kasus ini disidangkan di pengadilan Mae Sot, Thailand pada bulan Februari 2023.
 
Terdakwa Chairat, bersikukuh bahwa ia tidak bersalah setelah didakwa dengan tuduhan menyebabkan orang lain terluka parah, mengancam orang lain, dan merusak properti.
 
Pengadilan memutuskan bahwa Chairat dan adik laki-lakinya, dijatuhi hukuman penjara selama satu tahun pada bulan September 2023, dan diperintahkan untuk membayar ganti rugi sebesar lebih dari 318.000 baht atau sekitar 140 juta rupiah.
 
Liang mengatakan bahwa dia tidak puas dengan hukuman pengadilan, karena dia merasa hukumannya terlalu ringan dan mengajukan banding. Ia merasa orang-orang itu masuk ke kediamannya untuk membunuhnya.

Dia juga mengatakan, bahwa Liang mengetahui bahwa ada pihak lain yang mengajukan banding atas hukuman mereka.
 
Ia menambahkan bahwa dibutuhkan waktu dua bulan untuk proses banding, dan jika hasilnya masih belum memuaskan, karena mereka dapat mengajukan banding lagi melalui sistem pengadilan disana.
 
Liang juga mengklaim, bahwa luka di dada kirinya berpotensi berakibat fatal jika luka tembaknya lebih dalam.
 
Dokumen pengadilan mengungkapkan, bahwa Liang tidak dapat menjalani kehidupannya secara normal selama lebih dari 20 hari setelah penyerangan tersebut.
 
Setelah Liang kembali ke Singapura, ia berkonsultasi dengan dokter karena merasa tidak enak badan di bagian kepala dan dadanya. Menurut laporan medis, dia menderita gangguan stres pascatrauma, depresi, dan mimpi buruk yang berulang.
 
Menurut pemahaman Liang, Chairat adalah bagian dari tiga serangkai lokal di Thailand yang memiliki jaringan yang luas. Hal inilah yang menyebabkan sang istri, tidak bisa dengan mudah melepaskan diri dari Chairat.

Dikutip dari MotherShip, menurut Liang, Chairat memaksa istri Liang untuk membuat laporan polisi palsu di Thailand, yang mengklaim bahwa suaminya telah menyamar sebagai dirinya di Facebook, yang kemudian membuat polisi mencari Liang.

Namun tidak dilaporkan oleh Shin Min Daily News, apa yang terjadi pada istri dan anak Liang.
Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore