Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Oktober 2023 | 13.05 WIB

Dibukanya Pembatasan Bangkitkan Harapan Pemulihan Ekonomi Jepang

Dengan pelonggaran pembatasan mulai diberlakukan, wisatawan asing yang datang diharapkan mampu mendongkrak mata uang Jepang, Yen yang akhir-akhir ini menurun. (Sumber: Unsplash/Cory Schadt ) - Image

Dengan pelonggaran pembatasan mulai diberlakukan, wisatawan asing yang datang diharapkan mampu mendongkrak mata uang Jepang, Yen yang akhir-akhir ini menurun. (Sumber: Unsplash/Cory Schadt )

JawaPos.com - Pertumbuhan aktivitas sektor jasa Jepang mencatatkan sedikit ekspansi pada September, seiring pulihnya permintaan akibat menurunnya kasus COVID-19.

Hal ini juga didukung dengan prospek pelonggaran pembatasan terhadap pariwisata asing, meningkatkan harapan kebangkitan ekonomi yang lebih kuat bagi negara Matahari Terbit itu.

Perdana Menteri, Fumio Kishida, minggu ini berjanji untuk meningkatkan belanja pariwisata inbound menjadi lebih dari 5 triliun Yen atau sekitar Rp 529 triliun per tahun, dengan harapan dapat menaikkan kembali nilai mata uang Yen, yang sebelumnya jatuh baru-baru ini ke level terendah dalam 24 tahun terakhir.

Indeks manajer pembelian jasa akhir au Jibun Bank Japan naik ke penyesuaian musiman sebesar 52,2, kembali tumbuh setelah mencatat penurunan sebesar 49,5 pada Agustus.

Angka tersebut sebagian besar sejalan dengan angka awal 51,9 pada September. Tanda 50 memisahkan ekspansi dari penurunan.

Jepang akan melonggarkan kebijakan perbatasannya mulai Selasa (31/10) pekan depan, antara lain dengan menghapuskan pembatasan kedatangan harian.

Hal ini dikarenakan Jepang berharap penurunan tajam mata uang Yen dapat kembali normal dan pembatasan harian diharapkan mampu membantu menarik wisatawan untuk berkunjung.

"Pengumuman bahwa pembatasan terhadap wisatawan asing akan dicabut mulai Oktober, dan diharapkan mampu mendukung tingkat aktivitas ekonomi yang lebih besar di seluruh Jepang," kata Joe Hayes, ekonom senior di S&P Global Market Intelligence, yang menyusun survei tersebut.

"Lemahnya Yen juga menyebabkan inflasi impor dan merupakan alasan lain mengapa pelonggaran pembatasan perjalanan akan disambut baik," imbuhnya.

Namun, tekanan dari tingginya harga energi dan bahan mentah menimbulkan kekhawatiran bagi dunia usaha, seiring dengan meningkatnya biaya tagihan, bahan mentah, bahan bakar, dan upah yang menaikkan biaya, menurut survei dilansir dari Reuters.

PMI gabungan, yang diperkirakan berdasarkan manufaktur dan jasa, kembali tumbuh setelah mencatat kenaikan satu bulan pada Agustus, naik menjadi 51,0 di September dari angka akhir 49,4 di bulan sebelumnya.

Editor: Nicolaus
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore