Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Oktober 2023 | 06.19 WIB

Jatuh Drastis, Perekonomian Sri Lanka Alami Penurunan Tingkat Inflasi pada September

Seorang buruh angkut di Sri Lanka membawa sekarung sayuran. (Sumber: REUTERS/Dinuka Liyanawatte) - Image

Seorang buruh angkut di Sri Lanka membawa sekarung sayuran. (Sumber: REUTERS/Dinuka Liyanawatte)

JawaPos.com - Tingkat inflasi harga konsumen Sri Lanka turun menjadi 0,8% dari tahun ke tahun pada September dari 2,1% pada Agustus, kata Departemen Statistik pada Senin (23/10).

Indeks harga konsumen nasional menangkap inflasi harga eceran yang lebih luas dan dirilis dengan jeda 21 hari setiap bulan.

Harga pangan turun 5,2% pada September setelah turun 5,4% pada Agustus, dari tahun sebelumnya, kata Departemen Sensus dan Statistik dalam sebuah pernyataan.

Namun, harga barang-barang non makanan naik 5,9% di September, setelah naik 9% dari tahun ke tahun pada Agustus.

Sri Lanka mengalami rekor inflasi tertinggi setelah perekonomiannya terpukul oleh krisis keuangan terburuk dalam beberapa dekade.

Namun sejak Juni, inflasi di negara tersebut telah turun tajam, sebagian disebabkan oleh efek dasar statistik.

Namun juga dibantu oleh menguatnya mata uang Rupee, dan membaiknya hasil panen.

Sri Lanka menaikkan harga listrik untuk rumah tangga sebesar 18% pada minggu lalu tetapi kenaikan tersebut kemungkinan tidak akan mendorong inflasi secara signifikan, kata para analis.

"Kami memperkirakan inflasi pada akhir tahun ini akan berada di kisaran 5%. Kenaikan kecil diperkirakan terjadi karena efek dasar akan berakhir pada September,” kata Dimantha Matthew, kepala penelitian di Penelitian Modal Pertama.

“Namun dampak dan penyesuaian harga diperkirakan tidak terlalu parah," lanjutnya.

Sri Lanka mendapatkan kesepakatan tingkat staf mengenai peninjauan pertama dana talangan sebesar USD 2,9 miliar atau setara dengan Rp 46 triliun dari Dana Moneter Internasional (IMF) pada Jumat (20/10) lalu.

Tapi negara tersebut masih memerlukan persetujuan dari Dewan Eksekutif pemberi pinjaman global tersebut.

Negara ini perlu membicarakan restrukturisasi utang dengan pemberi pinjaman bilateral utama termasuk Jepang dan India.

Serta pemegang obligasi agar dapat melewati tinjauan pertama dan lolos peninjauan ke tahap kedua sekitar USD 330 juta atau sekitar Rp 5 triliun.

Perekonomian yang terpuruk diperkirakan masih akan naik sebesar 2% pada 2023 setelah menyusut 7,8% pada tahun lalu.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore