Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 12 November 2020 | 00.47 WIB

Peneliti AS Tegaskan Pakai Masker Tak Akan Turunkan Saturasi Oksigen

CEK KONDISI: Merry Khristianti (kiri) dan Claudia Angelina mengecek masker yang akan mereka gunakan. Praktisi kesehatan meminta hindari beli masker eceran. (Riana Setiawan/Jawa Pos) - Image

CEK KONDISI: Merry Khristianti (kiri) dan Claudia Angelina mengecek masker yang akan mereka gunakan. Praktisi kesehatan meminta hindari beli masker eceran. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

JawaPos.com - Sejumlah isu gerakan anti memakai masker menjadikan hambatan dalam mengatasi penyebaran virus Korona. Padahal protokol kesehatan memakai masker diyakini sebagai senjata paling efektif untuk terhindar dari virus Korona. Sayangnya, masker menjadi isu dengan beberapa orang mengatakan bahwa memakai masker akan menyebabkan hipoksia atau kehabisan oksigen.

Dilansir dari Boy Genius Report (BGR), Rabu (11/11), peneliti membuktikan hal itu tak benar. Tenaga medis selama ini memakai masker di rumah sakit sepanjang waktu, termasuk selama operasi yang lama, dan mereka tidak menderita hipoksia.


Masker memungkinkan oksigen lewat sambil memblokir patogen di udara. Dokter dan perawat memakainya untuk melindungi pasien selama operasi, tetapi juga untuk melindungi diri mereka sendiri.

Ilmuwan dari Universitas McMaster di Kanada Amerika Serikat membuktikan bahwa masker sangat aman dalam hal kadar oksigen. Peneliti memilih untuk melakukan eksperimen pada orang tua. Itu karena lansia lebih mungkin menderita masalah medis yang dapat meningkatkan risiko kematian karena Covid-19.

Sebanyak 25 peserta direkrut dari kondominium pensiunan di Ontario antara 27 Juli dan 10 Agustus. Para peneliti memberi semua sukarelawan jenis masker nonmedis sekali pakai tiga lapis yang sama yang biasa digunakan masyarakat. Lalu juga diberi oksimeter denyut portabel yang mengukur saturasi denyut nadi dan oksigen.

Para ilmuwan menginstruksikan kepada relawan untuk mengukur kadar oksigen mereka sebelum, selama, dan setelah memakai masker. Para partisipan disuruh melakukan pengukuran dengan jarak 20 menit untuk 1 jam sebelumnya. Yaitu 1 jam saat, dan 1 jam setelah memakai masker saat mereka sedang istirahat atau melakukan aktivitas keseharian di rumah.

Para partisipan memiliki usia rata-rata 76,5 tahun dan termasuk 12 perempuan dan 13 laki-laki. Sembilan relawan memiliki setidaknya satu kondisi medis.

Untuk penelitian tersebut, para peneliti memilih relawan yang memiliki penyakit jantung atau pernapasan penyerta yang dapat menyebabkan dispnea atau hipoksia, serta orang-orang yang tidak dapat melepas masker tanpa bantuan.

Para ilmuwan menyimpulkan bahwa rata-rata saturasi oksigen yang dikumpulkan adalah 96,1 persen sebelum pakai masker, 96,5 persen selama pakai masker, dan 96,3 persen setelah memakai masker.

Tingkat oksigen tidak turun di bawah 92 persen saat memakai masker. Para peneliti ingin melihat apakah memakai masker dapat menyebabkan penurunan saturasi oksigen sebesar 2 persen pada kelompok terpilih, namun itu tidak terjadi.

Mereka mengatakan bahwa penurunan sebesar 3 persen jadi indikator penting secara klinis. Kesimpulannya adalah bahwa masker wajah tidak menghalangi oksigenasi, dan tidak menyebabkan hipoksia atau penurunan saturasi oksigen.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore