Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 Agustus 2023 | 00.48 WIB

Nelayan Jepang Tolak Pembuangan Air Radioaktif dari PLTN ke Laut

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi. - Image

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi.

JawaPos.com–Asosiasi perikanan nasional di Jepang bersikukuh menolak pembuangan air radioaktif, yang telah diolah dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima ke laut. Masyarakat dalam dan luar negeri khawatir mengenai dampak lingkungan.

Federasi Nasional Asosiasi Koperasi Perikanan dalam pernyataan bersama dengan asosiasi lokal di Prefektur Miyagi mengatakan, pelepasan tersebut telah meningkatkan kekhawatiran para nelayan.

”Penolakan kami terhadap pembuangan limbah tidak berubah sedikit pun,” kata pernyataan tersebut dilansir dari Antara.

”Meskipun keputusan pemerintah diambil dari sudut pandang nasional dan menanggung pertanggungjawaban sepenuhnya, para nelayan di seluruh negeri yang menyaksikan momen ini menjadi lebih khawatir,” kata pernyataan itu lagi.

Asosiasi tersebut mengatakan, mereka hanya ingin mempertahankan bisnis perikanan dengan aman dan meminta pemerintah untuk segera memperbaiki kerusakan reputasi. ”Kami ingin pemerintah memenuhi janji perdana menteri dan mendukung para nelayan,” tambah mereka.

Menanggapi kekhawatiran komunitas nelayan, Pemerintah Jepang yang dipimpin Perdana Menteri Fumio Kishida telah membentuk dua dana terpisah senilai 30 miliar yen (Rp 3,14 triliun) dan 50 miliar yen (Rp 5,24 triliun) untuk merespons rumor-rumor yang membahayakan serta mendukung nelayan lokal dalam mempertahankan bisnis mereka.

PLTN Fukushima mengalami kerusakan berat akibat gempa dan tsunami pada Maret 2011. Sekitar 18.000 orang tewas dalam bencana tersebut.

Jepang mulai membuang limbah air radioaktif dari PLTN Fukushima Daiichi ke laut pada Kamis (24/8) pukul 13.00 waktu setempat. Prosesnya diperkirakan akan berlangsung sekitar 30 tahun atau lebih.

Air tersebut digunakan untuk mendinginkan bahan bakar nuklir yang meleleh dan telah diolah melalui sistem pemrosesan cairan canggih yang mampu menghilangkan sebagian besar radionuklida, kecuali tritium.

”Pemerintah akan mengambil tanggung jawab penuh, meskipun hal itu membutuhkan waktu puluhan tahun,” janji Perdana Menteri Fumio Kishida pada awal pekan ini.

Dimulainya pembuangan air radioaktif itu memicu tanggapan dari negara dan wilayah yang mengkhawatirkan aspek keamanan.

Tiongkok mengatakan akan menangguhkan impor semua produk makanan laut dari Jepang, dan menyebut pembuangan air tersebut sebagai tindakan yang sangat egois dan tidak bertanggung jawab. Hongkong mulai memberlakukan pembatasan impor makanan laut dari 10 prefektur Jepang, termasuk Fukushima dan Tokyo.

Pembuangan tersebut terjadi karena tangki yang dipasang di kompleks Fukushima, yang saat ini menampung sekitar 1,34 juta ton air yang diolah, diperkirakan akan mencapai batas kapasitasnya pada awal 2024 kecuali operator pembangkit listrik, Tokyo Electric Power Company (TEPCO), memulai pembuangan air tersebut.

Air tersebut akan diencerkan dengan air laut hingga seper-40 konsentrasi yang diizinkan menurut standar keselamatan Jepang sebelum dibuang melalui terowongan bawah air sepanjang satu kilometer dari pembangkit listrik, yang lumpuh akibat gempa bumi besar dan tsunami pada 2011.

Sesaat sebelum dimulainya pelepasan air radioaktif, TEPCO mengumumkan telah mengukur konsentrasi maksimum tritium dalam air encer sebesar 63 becquerel per liter, jauh di bawah batas 1.500 becquerel.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore