Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Januari 2020 | 04.15 WIB

Kuasa Hukum Donald Trump Sebut Demokrat Masih Dendam Hasil Pemilu 2016

Photo - Image

Photo

JawaPos.com – Kuasa hukum Presiden AS Donald Trump mulai mengungkapkan argumen akhir pekan lalu. Dari delapan jam yang disediakan Sabtu lalu waktu setempat (25/1), mereka hanya berbicara selama dua jam. Fokus mereka adalah tudingan politisi Demokrat yang punya dendam kesumat karena kalah pada Pemilu 2016.

Kuasa hukum Gedung Putih Pat Cipollone memulai pembelaan dengan membalikkan tuduhan. Dia mengatakan bahwa anggota Fraksi Demokrat di Dewan Perwakilan AS-lah yang menyalahgunakan kekuasaan. Menurut dia, Demokrat terus memburu kesalahan Trump karena tak terima dengan kekalahan 2016 lalu. ’’Mereka (Demokrat, Red) meminta Anda (senator, Red) semua melakukan hal yang tak pernah dilakukan,’’ ungkapnya seperti dilansir Agence France-Presse.

Argumen itu diperkuat Jay Sekulow, anggota pembela Trump lainnya. Dia mengatakan bahwa Demokrat memulai penyelidikan Ukraina hanya karena satu alasan sederhana. Yakni, kegagalan mereka untuk menemukan tuduhan kuat dalam penyelidikan intervensi Pemilu 2016 oleh pemerintah Rusia.

’’Semua hanya karena laporan ini,’’ ujar Sekulow sambil memegang salinan laporan jaksa khusus Robert Mueller seperti dilansir Associated Press.

Kubu Trump tak menampilkan banyak bukti dalam sesi pertama mereka. Mereka hanya membeberkan dalih bahwa Demokrat tak punya cukup bukti untuk menuding Trump melakukan kejahatan besar atau penyelewengan.

Kuasa hukum menegaskan, Trump merupakan pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat AS empat tahun lalu. Artinya, langkah Demokrat saat ini sama seperti membuang amanah rakyat. ’’Mereka meminta semua balot yang diserahkan rakyat dirobek,’’ ujar Cipollone.

Kuasa hukum Trump masih punya waktu 16 jam untuk menyorongkan argumen dalam rentang masa hingga 28 Januari. Tak ada yang tahu apakah mereka mengambil semua jatah tersebut. Yang jelas, Demokrat memanfaatkan waktu 24 jam yang dipunyai sepenuhnya pekan lalu.

Donald Trump sudah memberikan sinyal agar tim pembelanya tak berlama-lama berargumen pada kesempatan pertama mereka. Mantan bintang reality show itu tahu benar bahwa rating televisi pada akhir pekan bakal super-rendah. Artinya, publik AS tak akan terlalu memperhatikan argumen pembela hari itu.

Setelah semua argumen disampaikan, senator punya waktu 16 jam untuk mengajukan pertanyaan ke dua pihak. Pertanyaan tersebut bakal dibacakan hakim agung John Roberts. Pada tahap tersebut, kedua pihak diperkirakan bertikai soal perlu atau tidaknya memanggil saksi dalam sidang.

’’Perkembangan selama ini jelas mendukung argumen kami bahwa pemanggilan saksi sangat diperlukan,’’ kata Pemimpin Kelompok Minoritas Senat AS Chuck Schumer.

Sementara itu, pemimpin tim penuntut Adam Schiff menyangkal argumentasi hari pertama kuasa hukum Trump. Dia menyatakan, pembela sama sekali tak membeberkan fakta bahwa Trump bebas dari tudingan. Sampai sekarang, dia masih yakin ayah Ivanka itu menggunakan kekuatan presiden untuk menggali borok kandidat presiden Joe Biden.

’’Saat klien Anda sudah terbukti salah, Anda pasti tak akan berbicara soal dia. Anda pasti ingin menyerang kredibilitas penggugat,’’ papar Schiff.

Sementara itu, satu lagi bukti yang keluar dan memberatkan tudingan terhadap Trump. Dalam makan malam dengan para sponsor, Trump terekam mengatakan niatnya untuk mendepak Marie Yovanovitch sebagai duta besar AS untuk Ukraina. Rekaman itu dikirim pengacara Lev Parnas, pebisnis yang kini terjebak kasus pendanaan kampanye. ’’Singkirkan dia besok. Saya tak peduli, pokoknya singkirkan dia,’’ ujar Trump.

UJUNG TOMBAK KUBU DI SIDANG PEMAKZULAN

PENUNTUT

Adam Schiff: Kepala Komisi Intelijen Dewan Perwakilan AS serta pemimpin komite investigasi pemakzulan Presiden Donald Trump

Jerry Nadler: Kepala Komisi Yudisial Dewan Perwakilan AS serta sosok dengan pengalaman mengikuti sidang sebagai kubu pro-Bill Clinton pada 1998

Zoe Lofgren: Berpengalaman sebagai staf Komisi Yudisial saat investigasi pemakzulan Richard Nixon dan anggota panel dalam pemakzulan Bill Clinton

Hakeem Jeffries: Lulusan sekolah hukum di New York University serta salah seorang anak didik Ketua Dewan Perwakilan Nancy Pelosi

Val Demings: Mantan kepala Kepolisian Orlando serta masuk di dua komisi sekaligus, Komisi Intelijen dan Komisi Yudisial

Jason Crow: Anggota kongres baru, tapi punya pengalaman sebagai tentara di Iraq dan Afghanistan serta lulusan sekolah hukum di University of Denver

Sylvia Garcia: Mantan hakim lokal di Houston serta anggota Komisi Yudisial Dewan Perwakilan AS

PEMBELA

Pam Bondi: Mantan jaksa agung Negara Bagian Florida, dipekerjakan sebagai penasihat khusus pada November 2019 untuk menghadapi kasus pemakzulan

Pat Cipollone: Pengacara Gedung Putih sejak 2019 dan dikenal sebagai loyalis Donald Trump

Alan Dershowitz: Profesor Harvard Law School dengan pengalaman membela banyak pesohor, antara lain O.J. Simpson, Mike Tyson, dan Jeffrey Epstein

Eric Herschmann: Pengacara khusus kasus kerah putih dan keamanan

Jane Serene Raskin: Jaksa umum federal yang sudah masuk tim kuasa hukum Trump sejak penyelidikan Robert Mueller

Ken Starr: Terkenal sebagai penyelidik Bill Clinton yang mengatakan bahwa sang presiden bisa dilengserkan meski tak melakukan tindak kriminal, tapi mengeluarkan pernyataan sebaliknya saat membela Trump

Robert Ray: Salah seorang penerus Ken Starr sebagai penyelidik independen dalam penyelidikan Bill Clinton pada 1999

Jay Sekulow: Salah seorang pengacara terkenal di komunitas evangelis dan komentator langganan di Fox News

Sumber: Politico dan New York Times

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore