Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 September 2019 | 01.11 WIB

Negosiasi Ulang Inggris-Uni Eropa Dimulai

KONSISTEN: PM Inggris Boris Johnson berkunjung ke Doncaster Market kemarin. Johnson segera bertemu dengan Pre siden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker di Luksemburg awal pekan depan. (JON SUPER/POOL/AFP) - Image

KONSISTEN: PM Inggris Boris Johnson berkunjung ke Doncaster Market kemarin. Johnson segera bertemu dengan Pre siden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker di Luksemburg awal pekan depan. (JON SUPER/POOL/AFP)

JawaPos.com – Inggris punya waktu kurang dari dua bulan untuk membuat kesepakatan dengan Uni Eropa (UE). Tetapi, Jumat (13/9) Perdana Menteri (PM) Irlandia Leo Varadkar mengungkapkan bahwa celah antara London dan Brussel untuk mencapai kata sepakat masih sangat lebar.

”Kami mengeksplorasi apa yang mungkin (bisa dilakukan, Red). Celahnya sangat lebar, tapi kami akan berjuang dan bekerja (untuk menjembatani, Red),” terang Varadkar kepada RTE.

Rencananya, PM Inggris Boris Johnson bertemu dengan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker di Luksemburg Senin (16/9). Tidak diungkap dengan detail apa yang akan dibahas Johnson. Juru Bicara UE Natasha Bertaud juga hanya memaparkan bahwa Johnson dan Juncker akan menggelar makan siang sesuai kesepakatan bersama.

”Ada gambaran kasar kesepakatan yang harus dilakukan. Saya sangat optimistis,” tegas Johnson saat mengunjungi Rotherham kemarin. Dia yakin bisa mendapatkan kesepakatan dengan UE.

Bagaimanapun caranya, Johnson memang harus mendapatkan kesepakatan baru yang bakal disetujui parlemen. Bukan kesepakatan lama milik mantan PM Theresa May. Tetapi, dia harus melakukannya secepatnya. Sebab, Johnson enggan untuk mengajukan perpanjangan waktu lagi kepada UE. Dia ingin Inggris pisah sesuai jadwal pada 31 Oktober mendatang, apa pun caranya.

Kengototan Johnson itu tentu membuat banyak pihak khawatir. Terlebih, saat ini parlemen sudah dinonaktifkan selama lima pekan. Kepala House of Common John Bercow meminta Johnson agar tak mengabaikan aturan hukum yang sudah digedok Senin (9/9) untuk menghindari keluar dari UE tanpa kesepakatan.

Berdasar UU tersebut, Johnson harus mendapatkan kesepakatan yang disetujui parlemen sebelum 19 Oktober. Jika tidak, dia harus meminta tambahan waktu kepada Eropa untuk Brexit selama tiga bulan. Jika disetujui, tanggal Brexit mundur menjadi 31 Januari 2020.

Jika pemerintah ingin mengabaikan UU itu, Bercow akan berusaha mencegahnya. Sebab, hal tersebut akan menjadi contoh yang buruk di masyarakat. Dia bahkan mengizinkan parlemen untuk menggunakan prosedur tambahan yang kreatif demi menggagalkan upaya menghindari UU. ”Satu-satunya Brexit adalah yang secara eksplisit disetujui House of Commons,” tegasnya seperti dikutip Agence France-Presse.

Bagaimanapun, harapan untuk bisa mendapatkan kesepakatan masih ada. Setidaknya dalam pertemuan antara Johnson dan Juncker pekan depan. Rencana itu membawa sentimen positif. Nilai tukar pound sterling terhadap dolar AS menguat kemarin, yakni naik 1 persen. Itu menjadi nilai tukar tertinggi sejak Juli.

”Pounds menguat karena ketakutan pedagang tentang kemungkinan no deal Brexit berkurang,” terang analis di CMC Markets David Madden.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore