
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat ditemui di Westin Hotel, Jakarta Selatan, pada Selasa (14/11), mengatakan pelaksanaan uji coba MLFF pada minggu kedua Desember 2023.
JawaPos.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyampaikan bahwa air menjadi faktor kunci pembangunan kota yang berkelanjutan sehingga perlu pengelolaan yang baik.
"Air adalah faktor kunci untuk masa depan pembangunan berkelanjutan dari masyarakat dan ekonomi Indonesia," kata Basuki dalam diskusi "Mewujudkan Kota Ramah Air: Tantangan dan Peluang Perencanaan Infrastruktur Wilayah" yang diselenggarakan di Jakarta, Senin.
Menteri Basuki mengatakan, ketersediaan air bersih menjadi salah satu faktor utama sebuah kota dikatakan sebagai kota yang layak huni, ditinggali, atau juga kota berkelanjutan.
Menurut dia, pembangunan perkotaan tidak hanya membangun fisik, tetapi juga pengelolaan air yang berkaitan dengan water sensitive.
Konsep water sensitive merupakan suatu pendekatan rancang kota dan merupakan bagian dari konsep infrastruktur hijau yang salah satunya bertujuan untuk mengurangi persoalan banjir.
Ia memberikan contoh pengelolaan air di Jakarta, di mana pemerintah membangun Stasiun Pompa Ancol Sentiong untuk mereduksi banjir di 8 Kecamatan, sekaligus melengkapi sistem pengendalian banjir dari hulu ke hilir di DKI Jakarta.
"Water sensitive juga ada yang namanya liveable city atau sustainable city. Semuanya pasti dasarnya adalah air karena orang mau hidup nyaman, harus ada air. Jadi kalau water sensitive atau water resilience city tidak hanya untuk banjir, tidak untuk water supply, tapi juga kenyamanan," ujarnya.
Lebih lanjut Basuki menyampaikan, Stasiun Pompa Ancol Sentiong sendiri telah dibangun sejak 2020 serta menelan biaya sebesar Rp 481,37 miliar.
Baca Juga: Jokowi Bakal Groundbreaking Proyek di IKN Jelang Nataru, Ada RS Pemerintah hingga Gedung LPS
Stasiun ini memiliki sebanyak 5 pompa dengan kapasitas 10 m3 per detik.
"Water sensitive city, kita harus bisa mengendalikan banjir, tapi juga bisa mensuplai air, dan untuk membersihkan lingkungan," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna mengatakan bahwa pengelolaan air diperlukan agar ketersediaannya tetap terjaga.
"Dua bulan lalu kemarau panjang, kita rindu air. Tetapi ketika musim hujan datang, kita melupakan air," katanya.
Ia menyampaikan, isu kota ramah air di masa mendatang adalah konflik ruang untuk manusia dan konflik ruang untuk air.
Pemerintah perlu menyusun tata ruang kota untuk manusia sekaligus untuk air agar tercipta keseimbangan kehidupan.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
