
Ilustrasi. Tenaga kerja di bidang konstruksi.
JawaPos.com - Dunia pendidikan yang diwakili Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) melakukan kerjasama dengan Dewan Pengurus Pusat Himpunan Profesi Tenaga Konstruksi (DPP HIPTASI) dan LSP HIPTASi Multi Konstruksi guna mengatasi permasalahan tenaga konstruksi terserfikasi yang masih minim di Indonesia.
Diketahui, ada 12 juta tenaga kontruksi yang bekerja di sejumlah proyek infrastruktur di dalam negeri. Dari jumlah itu, kebutuhan tenaga kerja konstruksi tersertifikasi mencapai 2 juta tenaga kerja dan baru sekitar 720 ribu yang telah menjalani tahapan sertifikasi.
Ketua DPP HIPTASI, Hengki Hamino mengungkapkan pihaknya terus berupaya menekan kesenjangan minimnya tenaga konstruksi tersertifikasi lewat sejumlah langkah, diantaranya dengan menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi yang memiliki jurusan Teknik Sipil dan Arsitektur.
Langkah ini dilakukan dengan melakukan pemberdayaan Dosen dan Tenaga Kependidikan di Lingkungan APTISI sebagai Asesor Kompetensi di LSP HIPTASI Multi Konstruksi.
"Lewat kerjasama ini, mahasiswa yang lulus, diharapkan telah memiliki kompetensi dan siap masuk ke dunia kerja," katanya.
Bukan itu saja, kerjasama juga dilakukan dengan mengembangkan Platform Digital Sertifikasi Kompetensi Kerja (SKK) HIPTASI dan APTISI.
Dengan tersedianya platform digital, maka proses sertifikasi yang selama ini menghadapi banyak kendala akan lebih mudah mulai dari pendaftaran, ujian kompetensi hingga terbitnya sertifikat kompetensi.
"Mudah-mudahan software ini bisa terintegrasi dengan beberapa kementerian karena transformasi digital tidak bisa kita hindari lagi. Lewat digitalisasi kita harapkan proses sertifikasi akan lebih cepat tanpa mengurangi kwalitas kompetensi dari ahli kontruksi," ujar Ketua DPP HIPTASI, Hengki Hamino, Rabu (29/11/2023).
Hengki mengungkapkan saat ini kebutuhan tenaga kerja sektor konstruksi mencapai 12 juta orang.
Menurutnya, saat ini baru tersedia sekitar 720 ribu tenaga kerja kontruksi yang tersertifikasi dari kebutuhan 2 juta tenga kerja. "Karena itu, kita harapkan digitalisasi ini bisa mempercepat proses sertifikasi yang dilakukan," harapnya.
Hengki menyebut idealnya tenaga kerja konstruksi yang tersertifikasi sekitar 80 persen dari kebutuhan. "Kita bisa siapkan 60 persen saja sudah sangat bagus. Mudah-mudahan lewat digitaliasi sertifikasi ini bisa dicapai," pungkas Hengki.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
