
TANTANGAN: Tika Bravani kala diperkenalkan sebagai pemeran utama film Nyai Ahmad Dahlan di Mampang, Jakarta Selatan, kemarin.
JawaPos.com - Sudah dua kali Tika Bravani mendapat peran di film biopik. Dia menjadi Fatmawati dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), lalu memerankan istri Jusuf Kalla, Mufidah, dalam film Athirah (2016).
Kini ada tantangan yang lebih besar buat aktris 27 tahun tersebut. Yakni, memerankan Nyai Ahmad Dahlan di film Nyai Ahmad Dahlan yang tayang 24 Agustus mendatang.
Nyai Ahmad Dahlan (yang memiliki nama asli Siti Walidah) bukan hanya istri pendiri Muhammadiyah Ahmad Dahlan. Namun, dia juga merupakan pahlawan nasional yang membela hak-hak kaum perempuan. Tika merasa tanggung jawab moralnya sangat besar. Apalagi, di media sosialnya sudah banyak komentar netizen yang mengingatkan Tika untuk selalu berperilaku baik.
’’Pas digituin (diingatkan, Red) saya jadi takut gimana (respons masyarakat) saat filmnya sudah tayang nanti, ya,’’ kata Tika di kawasan Mampang, Setiabudi, Jakarta, kemarin.
Nyai Ahmad Dahlan hidup pada periode 1872–1946. Tika pun dituntut bisa membayangkan hidup pada masa yang serba terbatas itu.
Selama tiga bulan, bintang sitkom Saya Terima Nikahnya itu melakukan riset tentang sang Nyai. Dengan literatur yang sangat sedikit, dia beruntung mendapat bantuan dari keluarga keturunan Nyai Ahmad Dahlan.
Setelah melakukan riset terhadap pendiri Aisyiyah itu, Tika mengungkapkan bahwa Nyai Ahmad Dahlan punya napas perjuangan yang sama dengan Kartini, pahlawan emansipasi. Hanya, cara berjuang mereka berbeda. Nyai lahir dan besar di Kauman, Jogjakarta, yang terkenal sebagai basis Muhammadiyah.
’’Anak-anak yang tinggal di daerah Kauman dulu cuma bisa mengaji. Sekolah nggak bisa. Padahal, kan perempuan itu madrasah bagi anak-anaknya,’’ tutur Tika.
Nah, tantangan terbesar di film ini, kata Tika, dirinya harus memerankan tiga fase kehidupan Nyai sekaligus. Tidak hanya melafalkan dialog, tetapi juga harus memperhatikan intonasi dan gestur tubuh. ’’Ibaratnya, saya harus membedakan saat mengeluarkan emosi di umur 50 tahunan dengan saat remaja,’’ jelasnya.
Meski sudah pernah memainkan tokoh biopik, Tika merasa kali ini lebih berat. Saat memerankan Fatmawati, dia merasa beruntung karena dia tidak menjadi tokoh sentral. Berbanding terbalik dengan Nyai yang menjadikannya tokoh utama.
’’Saya di sini juga harus memainkan tokoh sepuh. Dan, lawan main saya itu lebih tua daripada saya. Nah, saya harus bisa lebih baik daripada dia,’’ imbuhnya.(*)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
