
Photo
JawaPos.com - Proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara ditinggalkan salah satu calon investornya, yakni SoftBank. Adapun, perusahaan asal Jepang ini dikatakan hendak berinvestasi sebesar USD 100 miliar untuk IKN.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menuturkan bahwa keputusan tersebut terkait dengan benefit yang akan didapatkan dalam proyek IKN. "Ini ada kaitannya dengan aspek ekonomi saja, potensial atau benefit yang didapatkan dalam jangka panjang itu mereka berhitung dan belum masuk (untung)," terang Eko ketika dihubungi JawaPos.com, Senin (21/3).
Di sisi lain, pembangunan tahap fisik juga bukan keahlian SoftBank yang biasanya berinvestasi pada bidang digital. Untuk masuk ke dalam tahap teknologi itu juga tidak bisa cepat, sebab membutuhkan infrastruktur yang mendukung.
"Mungkin dalam situasi sekarang bisa pararel, tapi kan mereka bakal bicara ROI (return of investment), misalnya mungkin 5-10 tahun lagi baru ada kehidupan, geliat dari IKN ini, tentu itu masih jangka panjang," tambahnya.
Lalu, faktor lainnya adalah membandingkan investasi mereka di negara-negara lain atau daerah lain di Indonesia juga yang sudah mempunyai pasar atau captive market. Dari perhitungan SoftBank, aspek profit yang akan didapat dirasa kurang ideal.
"Saat dia masuk GoTo itu kan pada situasi Gojek itu sudah besar dan dia suntik, rata-rata SoftBank itu mainnya begitu kan masuk ke perusahaan gede, mungkin belum menunjukkan profit karena perusahaan digital yang memang biasanya cara ngitungnya adalah valuasi," ungkap Eko.
Menurutnya, SoftBank juga mempertimbangkan daerah-daerah lain di Tanah Air yang lebih potensial. Mengingat juga bahwa Jakarta nantinya akan menjadi pusat ekonomi dan investasi pun semakin bergairah.
"Kepala daerah yang menawari dari Jawa Barat, Jawa Timur, itu juga banyak yang menawarkan untuk menjadi kutub-kutub baru untuk digital technology, bersaing dengan IKN. Dari sisi itu aja dia melihat, mungkin daripada masuk ke IKN, lebih baik masuk ke kota-kota yang bersaing dengan IKN," imbuhnya.
Jadi menurutnya, keputusan pemerintah untuk mengajak SoftBank masuk dalam proyek IKN dirasa terburu-buru. Sebab, bukan gaya SoftBank juga untuk melakukan investasi pada proyek yang baru dirintis.
"Kayaknya bukan itu yang dimau, yang diperlukan itu adalah akseleratif, mereka lebih mengakuisisi atau membeli perusahaan yang sudah jelas ke depan. Itu Gojek kalau dulu masih kecil, itu SoftBank nggak ngelirik, tapi pas udah gede ya dia masuk," pungkasnya.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
