
Huruf-huruf yang menjadi tetenger Putrajaya berhias lukisan karya Jamila. (SITI AISYAH/JAWA POS)
Wan Jamila Wan Shaiful Bahri lahir ”istimewa”. Dia autis. Lukisan menjadi caranya berkomunikasi. Kini karyanya terpajang di berbagai penjuru Malaysia.
Laporan wartawan Jawa Pos SITI AISYAH, dari Kuala Lumpur dan Putrajaya, Malaysia
---
SENANDUNG kecil keluar dari mulut Wan Jamila Wan Shaiful Bahri. Gadis berambut pendek itu tampak ceria. Tangannya dengan cekatan memegang kuas dan menggoreskannya di atas kanvas. Lukisannya didominasi warna hijau dengan bunga besar warna merah. Temanya Green Cities.
’’I love painting,’’ ujar Jamila singkat. Gadis 17 tahun itu memang lebih fasih menggunakan bahasa Inggris.
Jamila mengungkapkan bahwa dirinya mendapatkan inspirasi lukisan tersebut saat berwisata ke Pulau Pinang. Dari dalam kamar hotel bisa terlihat banyak tumbuhan nan hijau. Dari situlah Jamila membuat sketsa dan merealisasikannya dalam lukisan. Lukisan tersebut juga sebagai persiapan untuk konferensi green city yang digelar tahun ini.
Ibunda Jamila, Noorhashimah Mohamed Noordin, menceritakan bahwa awalnya dirinya tidak tahu bahwa putrinya menyandang autisme. Gejala itu terlihat saat Jamila berusia 3 tahun. Dia belum bisa lancar berbicara seperti anak-anak seusianya. Di usia 4 tahun dia dibawa ke dokter dan didiagnosis menderita autisme.
Kenyataan itu berat, tapi Noorhashimah menerimanya dengan lapang dada. Pada 2009 Jamila mulai masuk preschool. Dia belum lancar berbicara. Di dalam kelas, Jamila lebih sering melukis. Lukisan itulah yang sering dia bawa pulang dan ditunjukkan ke orang tuanya. Seluruh lukisannya bercerita tentang kegiatannya di sekolah.
’’Dia melukis di kertas apa pun. Lukisan itu jadi media komunikasinya,’’ ujar Noorhashimah saat ditemui di kediamannya di Shah Alam, Malaysia.
Di usia 10 tahun Jamila sudah mulai pandai berbicara. Kegiatan melukisnya juga tidak berhenti. Di usia 11 tahun dia sudah pandai berbicara dan mengikuti pelajaran. Noorhashimah yang berprofesi arsitek itu mengajari sendiri pelajaran anaknya sehingga Jamila tidak ketinggalan.
Sayang, di usia 13 tahun Jamila mengalami periode hitam. Dia tak terlalu menyukai sekolahnya karena kemampuan Jamila sudah lebih tinggi daripada pelajaran yang diberikan di sekolah. Noorhashimah akhirnya memutuskan Jamila homeschooling saja. Bukan pada pelajaran sekolah, tapi lebih fokus pada seni melukisnya.
Tidak ada guru khusus yang didatangkan untuk Jamila. Di awal memulai, Noorhashimah hanya meminta petunjuk ahli barang-barang apa yang harus dibeli. Mulai kanvas, cat, hingga kuasnya. Setelah itu, Jamila melukis sendiri. Seniman didatangkan secara berkala hanya untuk menilai dan memberikan masukan pada lukisannya.
Pada 9 April 2019, The Star memberitakan soal karya-karya Jamila. Presiden Perbadanan Putrajaya Dr Aminuddin bin Hassim membaca berita tersebut dan tertarik dengan lukisan bertema Unity in Diversity. Dia lalu menghubungi Noorhashimah dan meminta agar lukisan milik Jamila menghias arca tulisan Putrajaya. Putrajaya memang dibangun dengan semangat untuk memakai karya anak bangsa sebanyak-banyaknya.
Lukisan Unity in Diversity itu menggambarkan keberagaman di Malaysia. Yaitu, negara tersebut terdiri atas lima etnis utama. Yakni, Melayu, Tionghoa, India, Kadazan, dan Iban. Jamila melukis gedung-gedung yang menjadi ikon Malaysia. Jika dilihat secara detail, di dalamnya ada orang-orang yang menggambarkan lima etnis tersebut.
Karya itu dipaparkan di hadapan perdana menteri Malaysia kala itu Mahathir Mohamad pada 22 Juli 2019. Awalnya Mahathir tak tahu bahwa yang melukis adalah Jamila. Karena itu, ketika sesi foto, PM yang baru meletakkan jabatannya itu tercengang. Ternyata pelukisnya masih muda.
Lukisan Jamila itu kini bisa dinikmati di Dataran Perdana. Banyak turis yang memakainya untuk spot foto. Selain di sana, masih banyak lukisannya yang dipajang di penjuru Malaysia. Misalnya, di Sunway Putra Mall Kuala Lumpur, Resto Absolute Thai, Kantor Pejabat Dana Jaminan National Berhad, Hulo Hotel and Art Gallery, dan Hotel Shaftsbury.
Saat ini sudah ada 96 lukisan Jamila yang terjual. Jamila menginspirasi banyak pihak karena di balik kekurangannya ada kelebihan yang luar biasa. Dia berulang-ulang mengikuti pameran lukisan nasional dan internasional. Pun, kerap menggelar pameran tunggal. Jamila juga dilantik sebagai impact artist oleh perusahaan asal Swiss.
Photo
JIWA SENI: Jamila menunjukkan salah satu lukisannya. (SITI AISYAH/JAWA POS)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Skor Getafe vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Napoli vs Bologna di Liga Italia: Partenopei Menang Tipis di Stadio Maradona
Prediksi Skor Lille vs Troyes di Liga Prancis: Kans Calvin Verdonk Cs Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor RB Leipzig vs Hamburger SV di Liga Jerman: Die Roten Bullen Menang di Red Bull Arena
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Kanaya Whu Vokalis MK9 Meninggal Dunia, Dedi Mulyadi Turut Berduka
Prediksi Skor Celta Vigo vs Malaga di Liga Spanyol: Los Celestes Taklukkan Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Lecce vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Imbang di Via del Mare

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022