Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 April 2020 | 04.56 WIB

Pijatan Terapis Indonesia Jadi Langganan Petinggi Negara Kazakhstan

KELUARGA BESAR: Dubes RI untuk Kazakhsan dan Tajikistan Rahmat Pramono (dua dari kiri) bersama staf KBRI dan WNI di Nur-Sultan pada malam tahun  baru, 31 Desember 2019. Sebagian besar WNI itu adalah terapis spa di ibu kota Kazakhstan. (Doan Widhiandono/Ja - Image

KELUARGA BESAR: Dubes RI untuk Kazakhsan dan Tajikistan Rahmat Pramono (dua dari kiri) bersama staf KBRI dan WNI di Nur-Sultan pada malam tahun baru, 31 Desember 2019. Sebagian besar WNI itu adalah terapis spa di ibu kota Kazakhstan. (Doan Widhiandono/Ja

Di bawah kepemimpinan Nursultan Nazarbayev, Kazakhstan mengalami kemajuan pesat. Negeri itu kian modern dan terbuka. Tidak seperti era Uni Soviet. Sektor pariwisata menggeliat, ekspatriat berdatangan. Peluang tersebut dimanfaatkan tenaga kerja Indonesia yang punya keahlian khusus: memijat.

---

MADE Dwika Jarianti masih merasa geli tatkala mengingat pengalaman-pengalaman awalnya sebagai pemijat. ”Waktu itu ada turis bertanya apakah saya bisa memberi layanan happy end,” ungkap perempuan kelahiran 12 Januari 1987 tersebut. Dwika mengangguk mantap. Dia dapat memberikan layanan yang happy end.

Turis cowok tersebut langsung antusias. ”Dia langsung memulangkan istrinya ke hotel. Setelah itu, dia datang lagi minta pijat,” ujar alumnus SMAN 1 Tejakula, Singaraja, tersebut. Eh, setelah pijat, si turis menagih layanan happy end. Dwika yang usianya baru saja memasuki 20-an tahun pun bingung.

”Saya bilang, ’Yes, after massage you will be happy’,” kisahnya, kemudian terbahak. Dwika saat itu belum paham bahwa happy end dalam dunia perpijatan adalah istilah untuk layanan plus-plus yang mengarah ke aktivitas sensual dan seksual. ”Ya, saya nggak tahu,” kata ibu satu anak tersebut, lantas tertawa. Dia mengaku, sampai saat ini selalu menghindari layanan-layanan yang ”menjurus” seperti itu.

Dwika mengisahkan perjalanan hidupnya itu pada sebuah siang bersuhu minus 15 derajat Celsius, 4 Januari lalu. Menurut dia, jalan hidup memang menuntunnya untuk bekerja sebagai terapis spa. Selepas SMA pada 2004, Dwika tak bisa meraih cita-citanya untuk kuliah lagi. Putri seorang kepala sekolah dan guru itu harus bekerja di sebuah minimarket. Setelah itu, dia mencoba peruntungan di dunia terapis spa. ”Pindah-pindah kerja,” ujarnya, lantas menyebutkan beberapa tempat spa yang pernah disinggahinya.

Namun, garis hidupnya kian membaik tatkala istri Made Poliana itu bersekolah di Spa Bali International Academy (SBIA) di Jimbaran pada 2008. Oleh pengelola sekolah dan para gurunya, Dwika dinilai berbakat. Dia lulus dalam waktu enam bulan. ”Padahal, saya sambi. Kuliah, kerja, kuliah, kerja,” tutur perempuan berparas manis tersebut. Itu pun dilakoninya tanpa memberi tahu kedua orang tuanya.

Photo

KEAHLIAN KHUSUS: Siti Nurjanah merapikan duang massage di HOtel Rizos President, Nur-Sultan. (Doan Widhiandono/Jawa Pos)

Materi di akademi itu pun tak gampang. Untuk lulus, Dwika harus menguasai 12 teknik treatment. Mulai Bali massage, Thai massage, aromaterapi, manicure, pedicure, foot massage, hingga creambath. ”Saya lalu ditawari kerja di Turki oleh Ibu Puspiani (Ni Wayan Puspiani, direktur SBIA, Red),” ujar Dwika. Setelah dua tahun di negeri itu, Dwika pulang karena menikah.

Putrinya, Kesya, lahir pada 2012. Saat sang putri berumur lebih dari 1 tahun, Dwika kembali melanglang buana. Dia bekerja di Kazan, Tatarstan, bagian dari negara federasi Rusia. Setelah itu, pada 2014, Dwika pindah ke Kazakhstan. Awalnya, dia bekerja di Rixos President Hotel selama 3,5 tahun sebelum akhirnya berlabuh ke The Ritz-Carlton.

Di hotel mewah tersebut, Dwika mendapat gaji bersih sekitar USD 1.000 per bulan (sekitar Rp 15 juta). Itu belum termasuk komisi-komisi berkisar USD 300 (sekitar Rp 4,5 juta) plus komisi penjualan produk. Tabungannya mewujud menjadi tanah seluas 5 are (500 meter persegi) di Bali.

Tapi, merantau sekian lama, Dwika tentu ingin pulang. Dia rindu anaknya. Walaupun anak itu pula yang membuat Dwika meneguhkan diri tetap bekerja untuk menghidupi buah hatinya. ”Saya pengin anak saya bekerja tidak seperti saya. Mungkin dia jadi PNS. Atau suster (perawat, Red),” harap Dwika.

Pengalaman Dwika tidak hanya terlihat dalam wujud materi. Dia punya kesempatan berkenalan dengan tokoh-tokoh penting di Kazakhstan. Termasuk Presiden Kassym-Jomart Tokayev? Atau mantan Presiden Nursultan Nazarbayev? Dwika hanya tertawa. ”Saya enggak boleh bercerita. Itu kan rahasia klien,” katanya.

Siti Nurjanah, perempuan Banyuwangi yang jadi terapis di Rixos President Hotel, justru lebih gamblang. ”Saya baru dipanggil ke resident,” katanya pada 8 Januari malam di tempat kerjanya. Memijat presiden Kazakhstan? Nurjanah mengangguk. ”Tapi, yang gitu aja ceritanya,” ujarnya.

Photo

KEAHLIAN KHUSUS: Made Dwika Jarianti (kanan) bersama Niluh Made Radina Duhita, rekannya sesama terapis spa di Hotel The Ritz Carlton. (Doan Widhiandono/Jawa Pos)

Nurjanah adalah sesepuh para terapis di Kazakhstan. Perempuan kelahiran 6 September 1973 tersebut ada di Kazakhstan sejak April 2009. Lebih dari setahun sebelum KBRI berdiri.

Menurut dia, spa khas Bali jauh lebih dikenal ketimbang Thai massage atau layanan yang lain. ”Kata orang di sini, Bali massage itu lebih rileks. Enjoyable. Titik-titik pijatannya pas. Tidak terlalu kuat, tapi titiknya tepat,” kata ibu satu anak tersebut.

Menurut dia, tamu hotelnya selalu mencari pemijat dari Bali. ”Kan tangan kita beda,” kata alumnus SBIA itu, lalu terkikik.

Dwika sendiri menyebut tangan terapis Bali punya daya magis. ”Magic hand,” ujarnya, lalu tersenyum. Kali ini, yang keluar adalah magic smile.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore