
Menteri Kebudayaan Fadli Zon (tengah) didampingi Wali Kota Semarang Agustin Wilujeng (ketiga kanan) mendengarkan penjelasan Kurator Pameran Rumah Pohan Kesit Widjanarko (kedua kiri) saat menghadiri pameran arsip sejarah berjudul Dalam Cengkeraman Saudara Tua di Rumah Pohan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (31/5/2026). (Nur Chamim/Jawapos Radar Semarang)
JawaPos.com – Sebanyak tujuh film panjang dan 13 film pendek memenangi Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). Ke-20 karya tersebut dinilai dewan juri berhasil menghidupkan literasi heroisme Indonesia.
Kemenbud menggelar Pengumuman Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan di Jakarta, pada Jumat (4/9) malam. Pengumuman tersebut disampaikan sendiri oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan telah melalui berbagai tahapan. Mulai dari peluncuran program, sosialisasi, pendaftaran dan penerimaan proposal, seleksi administrasi dan substantif, presentasi atau pitching, hingga rapat pleno penjurian. Dari proses panjang itu lahirlah 143 proposal terdiri atas 420 lebih produser, sutradara, dan penulis naskah yang terlibat dengan pembagian 54 proposal film panjang dan 89 proposal film pendek.
Dikutip dari Antara, pemenang film panjang program Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan itu berjudul film “Barisan Penghibur”, “Hoegeng: Yang Ada Tinggal Nama”, “Rengasdengklok”, “Kapalselam Kalibayam”, “Sakura di Telawang”, “Rai”, dan “Pintu Tertutup”.
Sementara pemenang film pendek program Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan, yakni “Arang Kobar Juang”, “Belantara Raya”, “Buleun Purnama, di Nanggroe”, “Darah Djoeang”, ”Desing Peluru Tak Bertuan”, “Ibu Raih”, “Jam 7 Pagi (Makassar, 1947)”, “Menara Terakhir”, “Operasi Malino: Lembar yang Hilang”, “Seriboe Soedirman”, “Suara Republik”, “Timur 1950”, serta “Yang Tenggelam Saat Fajar.
Menbud Fadli Zon menilai bahwa film dapat memperkuat memori kolektif bangsa, termasuk menghidupkan literasi kepahlawanan. Menurutnya, menghidupkan literasi kepahlawanan bisa melalui karya sinema yang relevan, inspiratif, dan mudah dicerna, mudah diakses oleh masyarakat, kreatif, berbasis riset dan akurat secara historis.
“Membantu memperkuat industri perfilman nasional, memberi dampak manfaat ekonomi yang luas, terciptanya ruang sinergi dan kolaborasi antara sineas, sejarawan, akademisi, pelaku industri dalam mengembangkan karya berbasis sejarah,” ujar Fadli.
Menbud Fadli mengatakan upaya Kementerian Kebudayaan untuk menghadirkan kembali sejarah perjuangan dengan medium sinema kontemporer melalui inisiatif program Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan.
“Kita tahu bahwa kalau film-film lain, drama yang lain atau film horor atau film cerita yang lain sudah menjadi bagian dari ekosistem yang telah hadir di tengah-tengah masyarakat dengan 67 persen market share di bioskop-bioskop kita,” tutur dia.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Sidang Kasus Pemuda Dipukul Pengusaha Buah di Surabaya, Saksi Sebut Tak Melihat Kejadian Jelas
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Toulouse vs Lille di Liga Prancis: Les Dogues Berpeluang Sikat Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Bali United vs PSS Sleman: Dominikus Dion Harap Super Elja Main Pede
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
