Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 September 2026 | 15.06 WIB

Hoegeng dan Rengasdengklok Menangi Sayembara Produksi Film Kemenbud

Menteri Kebudayaan Fadli Zon (tengah) didampingi Wali Kota Semarang Agustin Wilujeng (ketiga kanan) mendengarkan penjelasan Kurator Pameran Rumah Pohan Kesit Widjanarko (kedua kiri) saat menghadiri pameran arsip sejarah berjudul Dalam Cengkeraman Saudara Tua di Rumah Pohan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (31/5/2026). (Nur Chamim/Jawapos Radar Semarang) - Image

Menteri Kebudayaan Fadli Zon (tengah) didampingi Wali Kota Semarang Agustin Wilujeng (ketiga kanan) mendengarkan penjelasan Kurator Pameran Rumah Pohan Kesit Widjanarko (kedua kiri) saat menghadiri pameran arsip sejarah berjudul Dalam Cengkeraman Saudara Tua di Rumah Pohan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (31/5/2026). (Nur Chamim/Jawapos Radar Semarang)

JawaPos.com – Sebanyak tujuh film panjang dan 13 film pendek memenangi Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). Ke-20 karya tersebut dinilai dewan juri berhasil menghidupkan literasi heroisme Indonesia.

Kemenbud menggelar Pengumuman Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan di Jakarta, pada Jumat (4/9) malam. Pengumuman tersebut disampaikan sendiri oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan telah melalui berbagai tahapan. Mulai dari peluncuran program, sosialisasi, pendaftaran dan penerimaan proposal, seleksi administrasi dan substantif, presentasi atau pitching, hingga rapat pleno penjurian. Dari proses panjang itu lahirlah 143 proposal terdiri atas 420 lebih produser, sutradara, dan penulis naskah yang terlibat dengan pembagian 54 proposal film panjang dan 89 proposal film pendek.

Dikutip dari Antara, pemenang film panjang program Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan itu berjudul film “Barisan Penghibur”, “Hoegeng: Yang Ada Tinggal Nama”, “Rengasdengklok”, “Kapalselam Kalibayam”, “Sakura di Telawang”, “Rai”, dan “Pintu Tertutup”.

Sementara pemenang film pendek program Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan, yakni “Arang Kobar Juang”, “Belantara Raya”, “Buleun Purnama, di Nanggroe”, “Darah Djoeang”, ”Desing Peluru Tak Bertuan”, “Ibu Raih”, “Jam 7 Pagi (Makassar, 1947)”, “Menara Terakhir”, “Operasi Malino: Lembar yang Hilang”, “Seriboe Soedirman”, “Suara Republik”, “Timur 1950”, serta “Yang Tenggelam Saat Fajar.

Menbud Fadli Zon menilai bahwa film dapat memperkuat memori kolektif bangsa, termasuk menghidupkan literasi kepahlawanan. Menurutnya, menghidupkan literasi kepahlawanan bisa melalui karya sinema yang relevan, inspiratif, dan mudah dicerna, mudah diakses oleh masyarakat, kreatif, berbasis riset dan akurat secara historis.

“Membantu memperkuat industri perfilman nasional, memberi dampak manfaat ekonomi yang luas, terciptanya ruang sinergi dan kolaborasi antara sineas, sejarawan, akademisi, pelaku industri dalam mengembangkan karya berbasis sejarah,” ujar Fadli.

Menbud Fadli mengatakan upaya Kementerian Kebudayaan untuk menghadirkan kembali sejarah perjuangan dengan medium sinema kontemporer melalui inisiatif program Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan.

“Kita tahu bahwa kalau film-film lain, drama yang lain atau film horor atau film cerita yang lain sudah menjadi bagian dari ekosistem yang telah hadir di tengah-tengah masyarakat dengan 67 persen market share di bioskop-bioskop kita,” tutur dia.

Editor: Diar Candra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore