Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Juni 2026 | 02.59 WIB

Mengenal Asrul Sani, Sosok di Balik Manifesto Budaya dan Mahakarya Sastra Indonesia

Sosok intelektual multitalenta dan merupakan salah satu pilar utama Angkatan '45, Asrul Sani, paman dari mantan Menkeu Chatib Basri. (Instagram @chatibbasri) - Image

Sosok intelektual multitalenta dan merupakan salah satu pilar utama Angkatan '45, Asrul Sani, paman dari mantan Menkeu Chatib Basri. (Instagram @chatibbasri)

JawaPos.com - 11 Januari 2004 Indonesia mendapat kabar duka dari seorang sastrawan besar asal Rao, sebuah kecamatan di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Asrul Sani, berpulang ke pangkuan Sang Maha Kuasa setelah meletakkan fondasi modern bagi dunia kreatif Tanah Air.

Asrul Sani dikenal sebagai sosok intelektual yang multitalenta dan merupakan salah satu pilar utama Angkatan '45, kelompok seniman yang membawa napas kebebasan berekspresi dan modernitas dalam dunia seni Indonesia pasca-kemerdekaan.

Bersama rekan-rekan sejawatnya, Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia melahirkan karya monumentalnya yang fenomenal, yakni kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir (1950).

Paman dari mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri ini memiliki sejumlah karya yang tidak sebatas puisi. Melalui perannya sebagai pendiri Gelanggang Seniman (1946), ia menjadi motor penggerak perumusan Surat Kepercayaan Gelanggang.

Manifesto budaya tersebut menjadi pegangan penting bagi seniman Indonesia untuk tetap jujur pada diri sendiri dan menyerap nilai-nilai universal tanpa harus kehilangan jati diri bangsa.

Pria yang mengenyam pendidikan sebagai dokter hewan di Institute Pertanian Bogor (IPB) ini melahirkan deretan karya sastra yang diakui secara kritis, seperti kumpulan cerpen Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat (1972), naskah drama Mahkamah (1988), hingga kumpulan esai Surat-Surat Kepercayaan (1997). Puisi-puisinya, seperti Anak Laut dan Surat dari Ibu, hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam apresiasi sastra di Indonesia.

Selain sastra, Asrul juga memiliki peran besar dalam industri perfilman di Indonesia. Sebagai penulis skenario, ia dikenal memiliki sentuhan magis yang membuat setiap filmnya menjadi mahakarya. Keahliannya dalam mengolah dialog dan alur cerita mengantarkannya memenangkan berbagai Piala Citra.

Adapun, Beberapa skenario film legendaris yang lahir dari tangan dinginnya mencakup Naga Bonar (1987), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Bawalah Aku Pergi (1981), serta Kemelut Hidup (1978). Melalui karya-karya ini, ia berhasil memadukan narasi sastra yang dalam dengan bahasa visual yang memikat.

Ketajaman intelektual Asrul Sani juga terlihat dari kemampuannya menjembatani literatur dunia ke dalam Bahasa Indonesia melalui karya terjemahan. Mulai dari Pangeran Muda karya Antoine de St-Exupery hingga Rumah Perawan karya Yasunari Kawabata, ia membuktikan bahwa sastra adalah bahasa universal yang harus dirayakan.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore