
clurit, senjata tarung khas madura/Celurit Weapon Form | Atkinson Swords | David Atkinson (atkinson-swords.com)
JawaPos.com – Carok, sebuah pertarungan ala suku Madura sempat kembali heboh akhir-akhir ini.
Beberapa waktu lalu terjadi sebuah tragedi carok terjadi di daerah bangkalan dan menewaskan 2 korban jiwa.
Dilansir dari Radar Jogja(14/1), suku Madura memegang sebuah prinsip dan ideologi yang berbunyi katembheng potea mata, ango’a potea tholang yang berarti daripada putih mata, lebih baik putih tulang.
Ideologi ini mengandung makna yang cukup dalam yakni daripada hidup menanggung rasa malu, lebih baik mati berkalang tanah. prinsip ini tertanam dalam hati masyarakat Madura yang sangat kuat dalam menjaga harkat dan martabat.
Berawal dari Ideologi yang dipegang suku Madura ini lahirlah sebuah tradisi carok yang dianggap sebagai upaya penyelesaian masalah, khususnya masalah terkait kehormatan individu dan keluarga.
Carok umumnya terjadi karena perebutan takhta yang terjadi para bangsawan keraton, perselingkuhan, hingga diakibatkan oleh sengketa tanah.
Meski dikatakan telah terjadi pada zaman keraton, faktanya istilah Carok dipercaya belum muncul pada masa itu baik saat dinasti Cakraningrat (12 M) hingga zaman Pemerintahan Panembahan Semolo (17 M).
Istilah carok baru muncul pada zaman kolonial Belanda (17 M), istilah ini dikaitkan pada nama salah satu senjata yang berupa clurit.
Pada masa kolonial, Belanda juga berhasil menduduki dan menguasai pulau Madura. Saat itu, kekerasan Belanda kepada suku Madura terjadi secara masif.
Sejarah carok dapat dengan mudah diketahui melalui kisah-kisah cerita rakyat yang berkembang di dalam lingkaran sosial suku Madura.
Menurut cerita rakyat yang tersebar, istilah carok muncul pada saat terjadi pertarungan antara Sakera dengan Brodin, Markasan, dan Carik Rembang.
Pada masa itu, Sakera berprofesi sebagai mandor petani tebu di pabrik gula Belanda di mana Brodin juga bekerja di sana. Brodin, Markasan dan Carik Rembang memiliki posisi sosial sebagai bagian dari antek-antek kolonial Belanda.
Carik Rembang memiliki tugas dari Belanda untuk mencari tanah atau lahan yang kemudian akan digunakan untuk ekspansi pabrik gula milik mereka.
Untuk memenuhi tugasnya, Carik Rembang melakukan teror kepada para pemilik tanah agar dia bisa mendapatkan tanah dengan harga murah.
Tidak terima dengan perlakuan Carik Rembang, Sakera memutuskan untuk membela rakyat kecil yang jadi korban teror tersebut.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
