Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 Oktober 2018 | 22.21 WIB

Early Warning System Kurang Efektif Cegah Bencana, Ini Cara Kerjanya

Salah satu masjid di Palu, Sulawesi Tengah ambruk usai diguncang gempa Jumat kemarin. Data BNPB, total korban meninggal mencapai 1000 orang lebih. LIPI menilai alat peringatan deteksi dini bencana dinilai kurang efektif. - Image

Salah satu masjid di Palu, Sulawesi Tengah ambruk usai diguncang gempa Jumat kemarin. Data BNPB, total korban meninggal mencapai 1000 orang lebih. LIPI menilai alat peringatan deteksi dini bencana dinilai kurang efektif.

JawaPos.com - Sistem peringatan dini tsunami atau early warning system (EWS) tengah ramai diperbincangkan setelah gempa bumi dan tsunami melanda wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng). Banyak anggapan EWS tidak berfungsi dengan baik sehingga bencana tersebut banyak menimbulkan korban jiwa.


Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto menilai EWS bukan langkah efektif mencegah banyaknya korban jiwa dalam sebuah bencana.


"Sangat pendek jarak antara data yang dikeluarkan oleh EWS dengan kejadian tsunami-nya, jadi tidak efektif," ujar Eko di Media Center LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (2/10).


Eko menjelaskan, EWS butuh waktu sekitar 3 menit untuk memproses data dari sumber gempa pertama terjadi. Setelah itu barulah diketahui apakah berpotensi tsunami atau tidak.


"Sehingga paling cepat dalam selang waktu 4 menit setelah gempa baru bisa dipublikasi di masyarakat," jelasnya.


Adapun jika sumber gempa berjarak dengan daratan sekitar 10 kilometer, maka waktu dari munculnya peringatan dini tsunami dengan waktu yang dibutuhkan masyarakat untuk evakuasi tidak cukup.


"EWS itu baru bisa memproses data, berapa besar gempanya dari Pusdalop sananya itu baru 3 menit setelah gempa terjadi, berpotensi tsunami atau tidaknya," terang Eko.


"Waktu kejadian tsunami Mentawai 2010 lalu, kita pernah lihat wawancara seorang korban selamat. Dia baca di televisi, gempa Mentawai berpotensi tsunami, setelah itu dia lari keluar rumah, ternyata air (tsunami) itu langsung menyapunya," sambungnya.


Lebih jauh Eko menilai jika kesadaran masyarakat akan bahaya bencana alam merupakan kunci utama utama keselamatan saat bencana terjadi. Serta tidak bermukim di daerah rawan bencana.


"Evakuasi mandiri yang dibutuhkan. Ketika gempa besar langsung lari ke tempat aman, atau pindah tinggalnya dari lokasi itu," pungkasnya.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore