
Pekerja tengah mengeruk lahan yang menjadi lokasi pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) di Kabupaten Kulonprogo, Jumat (2/2).
JawaPos.com - Ahmed Husni masih sedikit trauma jika mengingat pengalamannya mendarat di Bandara Adisutjipto, Jogjakarta, akhir pekan kemarin.
Selama menaiki pesawat, baru kali ini Ahmed mengalami holding (pesawat berputar-putar biasanya menunggu antrean untuk landing) hingga setengah jam lamanya.
Yang membikinnya bertambah kaget, Si Pilot menginformasikan jika bahan bakar pesawat (avtur) hanya cukup untuk setengah jam kedepan.
"Biasanya kalau pengalaman pribadi yang sudah-sudah, paling sepuluh menitan. Ini bisa sampai setengah jam lebih. Ditambah pilotnya bilang soal kondisi avtur pesawat, makin takut lah kita," ujar dia kepada JawaPos.com, Minggu (5/2).
Pun ketika dirinya ketika hendak bertolak ke Jakarta. Ahmed langsung disambut pemandangan penuh sesak dari penumpang pesawat,
"Padat sekali, kayak terminal. Banyak dari kami yang harus berdiri. Ruang tunggunya gak muat. Sering sekali seperti ini," keluh lelaki yang kerap wara-wiri Jakarta-Jogjakarta itu.
"Harus ada solusi dari pemerintah. Jogjakarta itu destinasi parwisata dunia. Sudah seharusnya ada bandara baru," jelas dia.
Apa yang dialami lelaki asal Jakarta Selatan itu sejatinya merupakan realitas yang terjadi di Bandara Adisutjipto sekarang. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, intensitas jadwal penerbangan ke Jogjakarta kian tinggi, selaras dengan jumlah penumpang yang datang.
Saat ini kapasitas Bandara Adisutjipto hanya sekitar 1,8 juta penumpang per tahun. Bahkan, sebelum pembangunan Terminal B Internasional, daya tampungnya hanya sekitar 1,2 juta penumpang. Bandingkan dengan penumpang yang datang, dimana angkanya mencapai 7,8 juta (2017).
Kondisi inilah yang membikin lamanya Holding di Bandara Adisujipto menjadi salah satu hal yang lumrah.
General Manager (GM) Angkasa Pura (AP) I Bandara Adisutjipto, Agus Pandu Purnama mengatakan, 'tradisi' lamanya holding tak lepas dari terbatasnya Apron atau areal parking pesawat. Saat ini, bandaranya hanya mampu menampung sebelas burung besi.
"Maka jangan heran kalau terkadang ada 5-6 pesawat yang holding di atas. Titiknya sama, hanya ketinggiannya yang berbeda. Jadi kalau yang satu sudah turun, yang ketinggian sekian turun sedikit, sampai landing. Ganti-gantian," ujar dia kepada JawaPos.com ditemui di ruangannya, Jumat (5/2).
Bahkan, kata Agus, pada beberapa kasus tak jarang pula pilot memilih kembali lagi ke Jakarta lantaran lamanya holding.
"Pilot terpaksa melakukan tindakan RTB (Return to Base/kembali ke bandara sebelumnya), atau bisa juga Divert (mendarat di bandara yang bukan tujuan–dialihkan ke bandara lain," beber pria yang kini masih aktif di TNI Angkatan Udara itu.
Dia juga membeberkan ihwal kapasitas kursi di bandara yang kerap dikeluhkan penumpang. Saat ini, lanjut Agus, total kursi di ruang tunggu hanya cukup untuk 876 penumpang. "Itu cuma muat buat lima pesawat. Makanya memang kami terus berusaha mencari jalan keluarnya," jelas dia.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
