Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Februari 2018 | 20.06 WIB

Bandara Adisutjipto Kian 'Darurat', Pembangunan NYIA Makin Mendesak

Pekerja tengah mengeruk lahan yang menjadi lokasi pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) di Kabupaten Kulonprogo, Jumat (2/2). - Image

Pekerja tengah mengeruk lahan yang menjadi lokasi pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) di Kabupaten Kulonprogo, Jumat (2/2).

JawaPos.com - Ahmed Husni masih sedikit trauma jika mengingat pengalamannya mendarat di Bandara Adisutjipto, Jogjakarta, akhir pekan kemarin.


Selama menaiki pesawat, baru kali ini Ahmed mengalami holding (pesawat berputar-putar biasanya menunggu antrean untuk landing) hingga setengah jam lamanya.


Yang membikinnya bertambah kaget, Si Pilot menginformasikan jika bahan bakar pesawat (avtur) hanya cukup untuk setengah jam kedepan.


"Biasanya kalau pengalaman pribadi yang sudah-sudah, paling sepuluh menitan. Ini bisa sampai setengah jam lebih. Ditambah pilotnya bilang soal kondisi avtur pesawat, makin takut lah kita," ujar dia kepada JawaPos.com, Minggu (5/2).


Pun ketika dirinya ketika hendak bertolak ke Jakarta. Ahmed langsung disambut pemandangan penuh sesak dari penumpang pesawat,


"Padat sekali, kayak terminal. Banyak dari kami yang harus berdiri. Ruang tunggunya gak muat. Sering sekali seperti ini," keluh lelaki yang kerap wara-wiri Jakarta-Jogjakarta itu.


"Harus ada solusi dari pemerintah. Jogjakarta itu destinasi parwisata dunia. Sudah seharusnya ada bandara baru," jelas dia.


Apa yang dialami lelaki asal Jakarta Selatan itu sejatinya merupakan realitas yang terjadi di Bandara Adisutjipto sekarang. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, intensitas jadwal penerbangan ke Jogjakarta kian tinggi, selaras dengan jumlah penumpang yang datang.


Saat ini kapasitas Bandara Adisutjipto hanya sekitar 1,8 juta penumpang per tahun. Bahkan, sebelum pembangunan Terminal B Internasional, daya tampungnya hanya sekitar 1,2 juta penumpang. Bandingkan dengan penumpang yang datang, dimana angkanya mencapai 7,8 juta (2017).


Kondisi inilah yang membikin lamanya Holding di Bandara Adisujipto menjadi salah satu hal yang lumrah.


General Manager (GM) Angkasa Pura (AP) I Bandara Adisutjipto, Agus Pandu Purnama mengatakan, 'tradisi' lamanya holding tak lepas dari terbatasnya Apron atau areal parking pesawat. Saat ini, bandaranya hanya mampu menampung sebelas burung besi.


"Maka jangan heran kalau terkadang ada 5-6 pesawat yang holding di atas. Titiknya sama, hanya ketinggiannya yang berbeda. Jadi kalau yang satu sudah turun, yang ketinggian sekian turun sedikit, sampai landing. Ganti-gantian," ujar dia kepada JawaPos.com ditemui di ruangannya, Jumat (5/2).


Bahkan, kata Agus, pada beberapa kasus tak jarang pula pilot memilih kembali lagi ke Jakarta lantaran lamanya holding.


"Pilot terpaksa melakukan tindakan RTB (Return to Base/kembali ke bandara sebelumnya), atau bisa juga Divert (mendarat di bandara yang bukan tujuan–dialihkan ke bandara lain," beber pria yang kini masih aktif di TNI Angkatan Udara itu.


Dia juga membeberkan ihwal kapasitas kursi di bandara yang kerap dikeluhkan penumpang. Saat ini, lanjut Agus, total kursi di ruang tunggu hanya cukup untuk 876 penumpang. "Itu cuma muat buat lima pesawat. Makanya memang kami terus berusaha mencari jalan keluarnya," jelas dia.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore