Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 September 2017 | 16.48 WIB

Dari Penjara, Penghuni Rutan Biayai Hidup Anak Dengan Usaha Roti

Penghuni Rutan Makassar membuat roti di bawah pengawasan Kepala Rutan, Surianto, - Image

Penghuni Rutan Makassar membuat roti di bawah pengawasan Kepala Rutan, Surianto,


Mendekam di Rutan Kelas I Makassar bukan berarti harapan hidup sirna begitu saja. Semua mimpi bisa diraih asalkan ada kemauan. Minimal untuk biaya untuk keluarga di rumah bisa dicarikan jalan keluarnya.


RUDIANSYAH, Makassar


---


TANGAN Asniah cekatan mencampur tepung terigu, telur, mentega, gula pasir, dan susu di atas meja. Bahan itu diolah menjadi adonan roti.


Sesekali dia menabur tepung terigu di atas meja. Perempuan berusia 43 tahun itu tak sendiri. Ada Saniati, Fifi, Sahriani, Andi Erwin, Hamka, dan Fachruddin. Seluruhnya berstatus narapidana.


Nia -sapaan akrab Asniah- kemudian mengambil wajan. Dia meletakkannya di atas kompor. Minyak goreng dituang, lalu kompor dinyalakan.


Saat minyak mulai panas, satu per satu adonan roti pun dimasukkan ke wajan. Sesekali dia mengecilkan api dari kenop pengatur.


Lima bulan lalu, tepatnya April, Nia mulai bekerja di toko roti "Rutan Daeng Bakery" Rumah Tahanan Negara (Rutan) Makassar. Setiap bulan Nia mendapat upah. "Cukuplah untuk kebutuhan keluarga," kata Nia, tak ingin menyebut nominal upah yang diterimanya.


Nia mendekam di penjara rutan lantaran tersandung kasus pencurian. Dia terimpit masalah ekonomi dan harus menyekolahkan anaknya. "Dua anak saya. Satu masih sekolah," ungkapnya kemarin (4/9).


Tahanan lainnya, Saniati, meletakkan minuman dingin di atas meja. Segelas es teh. Matanya berbinar-binar sambil mengatakan anaknya masih berusia tujuh tahun.


Tak banyak yang dapat diberikan kepada keluarga yang merawat anaknya. "Minimal ada uang untuk membantu beli susu dan mengurangi beban neneknya," imbuh tahanan kasus narkoba itu dengan menundukkan kepala.


Roti yang diproduksi para napi ini tak hanya digoreng. Ada juga yang dioven. Saniati menyebut roti panggang itu dengan sebutan roti ekonomis dan premium. "Kalau premium lebih mahal," ujarnya sambil menunjuk roti yang sudah dikemas plastik.


Ketika bekerja, napi itu mendapat pengawasan seorang sipir, Aslan. Dialah yang mengatur distribusi roti tersebut. "Selain di rutan, kita juga bawa ke Lapas Kelas I Makassar, Lapas Narkotika Bolangi, dan Lapas Perempuan. Produksi per hari 500 biji," kata Aslan yang diangkat sebagai manajer Rutan Daeng Bakery.


Para napi itu sebelumnya tak memiliki kemampuan membuat roti. Melalui pelatihan yang diikuti, mereka akhirnya bisa hingga mahir. "Kami hadirkan chef dari Jakarta untuk melatih mereka," ungkapnya.


Napi tersebut mendapat gaji minimal Rp 1 juta. "Tak ada di bawah 1 juta. Yang sudah mahir dapat 2 juta lebih," ujarnya.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore