
TURUN KE LAPANGAN: Repta Ocarea Venaz dan Mohammad Nasirudin.
MIJN ROOTS tidak sembarangan mempertemukan anak adopsi dan orang tua kandungnya. Selain pencarian berdasar dokumen, yayasan tersebut melakukan uji deoxyribose-nucleic acid (DNA). Proses itu tidak mudah. Tim di lapangan sering menemui kendala. Termasuk penolakan dari pihak keluarga yang dimaksud.
Berdasar laporan dan berkas yang diberikan anak adopsi di Belanda, tim Mijn Roots di Indonesia bergerak. Tugas pertama mereka adalah mencocokkan dokumen dan klien alias orang tua kandung bisa diakses. Jika semuanya cocok dan anak adopsi sepakat menemui orang tua kandung, langkah selanjutnya adalah uji DNA.
Proses tersebut tidaklah mudah. Tim di lapangan harus pandai bernegosiasi. Pasalnya, uji DNA sangatlah sensitif. Tidak jarang, orang tua kandung sengaja bersembunyi dari anak-anak mereka yang diadopsi. "Banyak penyebab,” kata Repta Octarea Venaz, tim Mijn Roots. Di antaranya adalah karena anak tersebut lahir di luar pernikahan.
Bersama suaminya, Mohammad Nasirudin, Repta menjalani pahit manisnya profesi unik mereka. Pasangan suami istri itu pernah bertugas mengambil sampel DNA di alamat yang sulit dijangkau. Medannya sulit. Pernah pula mereka diusir dari rumah orang tua kandung klien Mijn Roots.
Itu terjadi di Jombang. Sebenarnya, si ibu sudah bersedia melakukan tes DNA. Namun, rupanya sang suami tidak berkenan. Maka, diusirlah Repta dan Nasirudin. Karena si ibu mengaku pernah menyerahkan anaknya untuk diadopsi dan dia ingin bertemu sang buah hati, Repta dan Nasirudin pun kembali ke rumah tersebut. Sang suami belum berubah. Kali ini, mereka diusir dengan lantang.
’’Belum lagi kalau hasil DNA tidak cocok,” terang Nasirudin kepada Jawa Pos saat diwawancarai pada Jumat (26/5) sore.
Lantas, apa yang membuat dia dan sang istri bertahan pada profesi mereka? Kadang kala, imbuh Nasirudin, perjuangan berbuah manis. Keberhasilan itu mampu menghapuskan segala kegagalan. Itu menjadi penyemangat bagi mereka untuk tetap bertekun pada bidang yang dijalani.
Repta dan Nasirudin juga berada di balik pertemuan mengharukan Jordy Nijkerk dan Senimah. Anak lelaki dan ibu kandungnya itu bertemu setelah terpisah 42 tahun. Repta juga membantu Senimah berkomunikasi dengan Jordy karena bahasa mereka tidak sama. Hal-hal manis seperti itu selalu mampu membuat Repta dan Nasirudin bertahan meskipun tidak mudah. (omy/c17/hep)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
