
Peluncuran program Internship in Visual Anthropology, program magang antropologi visual pertama di Indonesia. (Instagram: Atmakanta)
JawaPos.com - Atmakanta, sebuah agensi etnografi visual yang berbasis di Jakarta, meluncurkan “Internship in Visual Anthropology (IVA) 2025”. Sebuah program magang antropologi visual pertama di Indonesia.
Program ini bertujuan untuk mengembangkan talenta pencerita visual dengan kepekaan periset sosial. Dalam edisi pertamanya, ada mahasiswa kreatif terpilih untuk mengikuti magang. Mereka berasal dari Universitas Indonesia, Universitas Udayana, dan Universitas Tadulako.
"IVA diharapkan menjadi babak penting dalam pengembangan diri para magang di karier pilihan mereka masing-masing. Entah itu di dunia riset, perfilman, fotografi, pendidikan, kesenian, dan lain-lain,” kata Moses Parlindungan Ompusunggu, pendiri dan CEO Atmakanta, dalam jumpa pers virtual, belum lama ini.
Para peserta magang tersebut memiliki kecintaan yang sama pada pemikiran di bidang sosial. Mereka bersemangat dan antusias untuk menghadirkan karya visual yang berdampak positif untuk masyarakat guna mendorong kemajuan.
Peluncuran program Internship in Visual Anthropology ditandai dengan diskusi panel via daring dengan tema “Visual Intervention: Understanding, Interpreting, and Framing Realities through Images” dengan menghadirkan Lamtiar Simorangkir (sutradara dan produser film), Yonri Revolt (pembuat film, aktivis budaya, dan jurnalis foto), serta Taufiqurrahman Kifu (seniman interdisiplin), sebagai pembicara.
Mereka mengungkapkan akan pentingnya para pekerja kreatif dalam menafsirkan realitas sosial melalui medium visual. Mereka kompak menyatakan bahwa sebuah karya visual yang kuat dan menarik ketika dieksekusi secara kreatif dengan latar belakang pemikiran kritis di dalamnya.
”Perbincangan ini hendak menempatkan praktisi visual, dalam hal ini para pembuat film, sebagai intelektual publik. Bukan sekadar di balik layar, tetapi juga membentuk perspektif masyarakat dalam melihat realitas sosial,” tutur Moses.
Atmakanta menaruh harapan besar program ini dapat membuka jalan bagi anak-anak muda cerdas dan visioner untuk tidak hanya menjadi pembuat gambar atau video, tapi juga melihat langsung kehidupan di lapangan, merekamnya dengan sudut pandang tajam, lalu mengolahnya menjadi karya visual dengan pesan sosial yang kuat.
"Selama tiga bulan, para magang akan mengasah kemampuan membuat konsep kreatif, praktik visual, pemikiran kritis, dan pengelolaan proyek," ungkapnya.
Mereka juga akan dibekali sejumlah pengetahuan dan pisau analisis untuk membedah realitas sosial supaya menjadi karya visual yang menarik dan kreatif. Mereka pun dibekali pengetahuan dan wawasan yang diinjeksikan oleh sejumlah pakar mumpuni di bidangnya.
"Di akhir masa magang, para peserta bakal membuat proyek final untuk menelusuri realitas sosial di sekitar mereka," tandasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
