Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Maret 2025 | 21.55 WIB

Menag Nasaruddin Umar Kagumi Sosok Siddharta Gautama, Sebut Teladan Hidupnya Jadi Solusi Persoalan Masyarakat Modern

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar di Dialog Kerukunan Umat Buddha di Jakarta (7/3). (Hilmi/Jawa Pos) - Image

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar di Dialog Kerukunan Umat Buddha di Jakarta (7/3). (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com – Menteri Agama (Menag) Nasarudin Umar menyampaikan kekagumannya terhadap sosok Buddha atau Siddharta Gautama.

Menurut dia, keteladanan hidup dari Siddharta Gautama bisa menjadi solusi sejumlah persoalan masyarakat modern sekarang. Di antaranya adalah masalah overthinking atau perasaan beban hidup terasa berat. 

Kekaguman terhadap sosok Siddharta Gautama itu disampaikan Nasaruddin dalam pembukaan Diskusi Kerukunan Umat Buddha yang diselenggarakan Ditjen Bimas Buddha di Jakarta, Jumat (7/3). "Merenungi sosok Buddha itu sosok ideal. Khususnya bagi (urusan) kemanusiaan," katanya. 

Imam Besar Masjid Istiqlal itu lantas mengajak peserta diskusi untuk bersama-sama merenungi perjalanan hidup dari Siddharta Gautama secara universal.

Dia mengatakan Siddharta Gautama adalah putra mahkota atau anak raja. Kemudian dia menikah dengan putri mahkota. 

Selanjutnya di usia 24 tahun, Siddharta memilih untuk keluar dari kerajaan untuk bersemedi. Dia dengan tekun melakukan semedi di bawah pohon besar. Sampai akhirnya mencapai level yang diidamkan.

Situasi yang dialami Siddharta itu menunjukkan bahwa terlepas apapun latar belakang seseorang, ketika melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh maka bisa mencapai tujuan yang ingin diraih. 

"Biografi sang Buddha sangat inspiratif. Saya tidak bisa bayangkan, apakah ada figur yang bisa bersikap seperti itu," jelasnya.

Meurut dia, kisah atau teladan hidup dari Buddha atau Siddharta Gautama bisa menjadi solusi masalah di tengah masyarakat modern

Nasaruddin mencontohkan masyarakat sekarang sedang hidup dengan perasaan berada di dalam belenggu yang berat.

Atau bisa disebut hidup dengan kondisi overthinking, karena terlalu banyak yang dipikirkan. Kondisi seperti itu sebenarnya bisa dipecahkan dengan meneladani kisah kehidupan orang terdahulu. 

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Bimas Budhha Kemenag Supriyadi mengatakan, diskusi kerukunan itu diselenggarakan untuk memperkuat persatuan di Indonesia.

Dia mengatakan, ketika berbicara mengenai kerukunan, maka sekat-sekat perbedaan harus ditanggalkan terlebih dahulu.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore