Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Maret 2025 | 16.10 WIB

Perayaan Rabu Abu, Tanda Dimulainya Masa Prapaskah, Hari Pertama Pantang dan Puasa untuk Menyambut Paskah

Ilustrasi Rabu Abu. (Freepik) - Image

Ilustrasi Rabu Abu. (Freepik)

JawaPos.com - Setiap agama memiliki hari raya masing-masing untuk merayakan berbagai hal penting. Bagi umat agama Katolik, Rabu (5/3) adalah Hari Rabu Abu. Ini merupakan tanda dimulainya masa Prapaskah sekaligus hari pertama pantang dan puasa untuk menyambut Hari Paskah.

Dilansir dari Dynamic Catholic, pada hari Rabu Abu para umat Katolik akan mendapatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan Tuhan. Di hari Rabu Abu, para umat Katolik akan beribadah lalu mendapatkan tanda salib pada dahi mereka dari abu daun palma kering yang dibakar dari perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya.

Tanda salib dari abu tersebut menjadi simbol pengingat untuk bertobat dan tidak lagi mengulang dosa-dosa mereka.

Siapa saja yang merayakannya?

Perayaan ini biasanya dilaksanakan oleh gereja-gereja Kristen Barat. Contohnya adalah Katolik, Kristen Lutheran, Moravian, Anglikan, Protestan, Baptis, Metodis, dan lain-lain.

Sedangkan gereja-gereja Kristen bagian timur, seperti Gereja Ortodoks, biasanya akan memulai periode pantang dan puasa ini pada Senin Bersih. Sehingga mereka tidak ikut merayakan Rabu Abu.

Dilansir dari Ensiklopedia Britannica, setelah Rabu Abu, para umat Katolik akan meneruskan kebiasaan pantang mereka selama enam setengah minggu hingga Hari Paskah. Perayaan ini adalah pengingat akan kematian dan pentingnya bertobat serta mendekatkan diri dengan Tuhan.

Pertobatan adalah sebuah aksi yang sangat besar. Dalam Kitab Suci Injil Matius 3:2, Yohanes Pembaptis berkata: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”. Tuhan Yesus pun juga menyebarkan pesan yang sama.

Panjang periode pantang ini sama dengan lama Tuhan Yesus berpuasa di padang gurun yaitu 40 hari.

Sejarah Rabu Abu

Sejak dahulu abu sudah menjadi simbol pertobatan dan kesadaran spiritual bagi umat Kristiani. Hal-hal berkaitan dengan abu sudah berkali-kali disebutkan di dalam Kitab Suci.

Ayub 42:6: “Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Yeremia 6: 26: “Hai puteri bangsaku, kenakanlah kain kabung, dan berguling-gulinglah dalam debu! Berkabunglah seperti menangisi seorang anak tunggal, merataplah dengan pahit pedih! Sebab sekonyong-konyong akan datang si pembinasa menyerangmu.”

Daniel 9:3: “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.”

Umat Kristiani zaman dahulu menggunakan abu sebagai penanda pertobatan bahkan di luar perayaan Rabu Abu. Setelah melakukan pertobatan, para umat Kristen akan mendapatkan abu dari pendeta atau imam mereka.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore