Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Juni 2024 | 18.48 WIB

Pedihnya Hidup Sopyah, Tidak Punya Uang, Ibunya Meninggal Setelah Tak Makan

Sopyah


JawaPos.com - Seseorang bisa melakukan pekerjaan apa saja dengan penuh totalitas Ketika merasakan betapa sakitnya tidak bisa makan karena tak ada yang bisa dimakan. Hal itu yang dialami oleh Sopyah, gadis berusia 23 tahun, yang akhirnya memutuskan menjadi kuli bangunan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sopyah tidak masalah melakoni pekerjaan sebagai kuli bangunan yang biasanya merupakan pekerjaan bagi kaum laki-laki. Dia tidak masalah harus angkat semen hingga palu godam seberat 25 kilogram untuk memecahkan batu berukuran besar, ketika bekerja sebagai kuli bangunan.

Dia melakukan hal itu selama kurang lebih 6 tahun demi memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan juga adiknya, Samsul. Tidak ada lagi perasaan malu untuk dia bekerja sebagai kuli bangunan dan harus bekerja bersama laki-laki.

Yang membuatnya sangat sedih, ibunya yang saat itu sedang sakit kanker tidak mau makan. Padahal sudah disiapkan makanan untuknya. Akan tetapi dia memilih tidak makan mengingat anak-anaknya tidak bisa makan karena tidak ada lagi uang untuk membeli makanan.

"Kita sempat nggak bisa makan, ibu sakit kanker nggak mau makan karena kita nggak makan. Tidak lama kemudian ibu meninggal," kata Sopyah dalam podcast Deddy Corbuzier.

Sopyah memiliki 4 orang saudara. Dia anak kedua dan memiliki dua orang adik. Salah satu adiknya diajak tinggal bersama kakaknya yang sudah berkeluarga. Sedangkan Sopyah tinggal bersama adiknya, Samsul.

Ayahnya merantau mengadu nasib, juga termasuk kekurangan sehingga tidak dapat mengirimkan uang untuk Sopyah dan Samsul. Alhasil, Sopyah memutuskan berhenti sekolah di bangku sekolah SMP dan memilih berjuang mencari uang.

Diceritakan Sopyah, dirinya terpaksa memutuskan bekerja sebagai kuli bangunan karena pekerjaan ini yang lumayan menghasilkan uang cukup besar. Dalam satu hari dia bisa mendapatkan uang Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu dari pekerjaannya tersebut.

"Kalau nggak kerja bangunan kayak nggak cukup. Aku ngangkutin semen, ngakutin bata. Kuat ngangkat semen. Yang paling berat itu mecahin batu yang gede pakai besi yang beratnya 25 kilogram," katanya.

Namun, pekerjaan sebagai kuli bangunan tidak datang setiap hari. Jika lagi ada pekerjaan, dia bisa mendapatkan uang cukup banyak. Namun jika tidak ada, bisa beberapa bulan Sopyah jadi pengangguran.

Dia pun memutuskan untuk mengalokasikan semua uangnya untuk keperluan hidup sehari-hari terutama untuk makan bersama adiknya. Sedangkan untuk tempat tinggal, Sopyah memilih tinggal di salah satu pemakaman di daerah Indramayu supaya tidak perlu keluar uang untuk sewa kontrakan.

"Seram sih, tapi mau tinggal dimana lagi? Sedih pada saat nggak bisa makan karena tidak ada uang. Pernah tidak bisa makan dua hari," katanya.

Demi dapat bekerja sebagai kuli bangunan, dia terpaksa memotong pendek rambutnya berpenampilan layaknya seorang laki-laki. Karena jika berpenampilan seperti perempuan, dia diremehkan tidak mungkin bisa bekerja.

Baca Juga: Polisi Duga Ada Kelalaian yang Sebabkan Kuli Bangunan yang Tewas Jatuh di Ketinggian Lantai 7

Sejak berpenampilan seperti laki-laki, Sopyah pun akhirnya diterima bekerja sebagai kuli bangunan. "Kadang ada yang tahu aku cewek. Untungnya tidak ada yang mengganggu," katanya.

 
Sekalipun kekurangan, Sopyah panjang meminta-minta pada tetangga atau orang lain karena teringat akan pesan almarhumah ibunya." Ibu bilang, kamu jangan pernah minta-minta selagi kamu masih kuat," katanya.
 
Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore