Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 April 2024 | 23.07 WIB

Singgung Tradisi Politik hingga Strategi Pemasaran Pedagang Martabak, Ini 5 Fakta Menarik tentang Halalbihalal

Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor saat halal bihalal bersama dengan warga di Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (13/4/2024) ANTARA/HO-Pemkab Sidoarjo - Image

Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor saat halal bihalal bersama dengan warga di Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (13/4/2024) ANTARA/HO-Pemkab Sidoarjo

JawaPos.com – Di Bulan Syawal, aktivitas umat muslim biasanya dipenuhi dengan acara halalbihalal.

Ya, selesai dengan Ramadhan, umat muslim akan merayakan Lebaran salah satunya dengan aktivitas halalbihalal.

Bukan hanya berkeliling ke tetangga sesaat setelah Sholat Id, halalbihalal terkadang diagendakan secara khusus dengan mengundang tamu dan menyiapkan jamuan.

Bahkan, tak sedikit yang sampai mengundang ustadz sebagai pengisi acara halalbihalal. Tidak hanya di rumah, perkantoran pun kerap melakukan hal serupa.

Melansir situs Kemenko PMK RI, ada beberapa fakta menarik tentang halalbihalal yang sering membuat orang salah paham tentang tradisi ini.

  1. Asal Bahasa

Halal bihalal ternyata bukan berasal dari Bahasa Arab, meskipun di dalamnya mengandung diksi ‘halal.’ Melansir situs Kemenko PMK RI, istilah ini justru ditemukan di Kamus Bahasa Jawa-Belanda.

Meski terdengar seperti Bahasa Arab, istilah halalbihalal sebenarnya hanya menyerap kata ‘halal’ yang diberikan sisipan ‘bi.’

Di dalam diksi Bahasa Arab sendiri tidak ditemukan kata halalbihalal sebagaimana yang kerap terdengar di Indonesia.

  1. Tradisi Politik Indonesia

Istilah halalbihalal kerap diidentikkan dengan ritual yang wajib dilakukan sesaat setelah lebaran.

Hal ini dilakukan juga di sekolah atau perkantoran ketika kembali masuk kerja setelah libur hari raya. Alhasil, ada aktivitas tambahan sebelum kembali bekerja atau belajar mengajar.

Padahal faktanya, halalbihalal merupakan tradisi yang dikembangkan dalam konteks silaturahmi antar pemimpin politik.

Pada masa Presiden Soekarni, seluruh tokoh politik datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahim, di mana mereka semua akan duduk satu meja.

Kiai pendiri NU menjadi pencetus ide ini, agar Bung Karno melakukan halalbihalal antar pemimpin yang masih berkonflik.

Tradisi ini terus dilakukan saat ini dan semakin meluas. Tidak hanya dilakukan antar pemimpin politik atau pejabat negara saja, melainkan sampai ke level rumahan.

  1. Cara Berdagang Martabak

Ada fakta menarik lain dari istilah halalbihalal yang pasti banyak orang yang belum tahu. Sekitar tahun 1930-an terdapat pedagang martabak asal India di Taman Sriwedari, Solo.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore