Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Maret 2024 | 20.45 WIB

Filosofi Tradisi Megengan Jelang Ramadhan Serta Kue Apem yang Tidak Pernah Absen dalam Acara

Apem, jajanan tradisional yang selalu hadir dalam megengan

JawaPos.com - Menjelang Ramadhan, masyarakat Jawa biasanya mengadakan tradisi selamatan yang dikenal sebagai megengan. Dalam tradisi ini, setiap individu Muslim atau masyarakat Jawa memasak dan menyajikan makanan dalam kotak atau keranjang.

Menu yang biasanya disajikan meliputi ayam atau lauk lainnya, mi atau bihun, sayur, dan beberapa tambahan lainnya.

Makanan yang telah disiapkan kemudian dibagikan kepada tetangga di sekitar rumah. Ada juga yang membawa kotak makanan ke masjid untuk disantap bersama warga kampung setempat, disertai dengan doa bersama agar diberi kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Dalam serangkaian tradisi ini, kue apem selalu menjadi bagian tak terpisahkan. Kue putih yang terbuat dari tepung beras, tape atau ragi, dan santan ini selalu tersedia dalam setiap tradisi masyarakat Jawa.

Dikutip dari JawaPos.com, Isa Wahyudi, seorang Pemerhati Budaya dari Malang, menjelaskan bahwa tradisi megengan dan apeman hanya ditemui di Jawa.

"Tradisi sambut Ramadhan dengan megengan ini hanya ada di Jawa," kata dia, kepada JawaPos.com, Rabu (16/5).

Menurutnya, megengan memiliki makna menahan dalam bahasa Jawa, yang mencerminkan pentingnya untuk menahan hawa nafsu, amarah, dan tidak hanya menahan lapar selama berpuasa.

Sementara itu, kue apem memiliki makna maaf atau ampunan. Kata ‘apem’ berasal dari bahasa Arab, ‘afuwwun’ yang berarti ampunan. Makna simbolisnya adalah sebagai permohonan maaf kepada tetangga.

"Makna simbolisnya, meminta maaf kepada tetangga," kata Pemangku Kampung Budaya Polowijen (KBP), Malang itu.

Ki Demang, seorang pemangku budaya dari Malang, menjelaskan bahwa tradisi ini sudah ada sejak tahun 1450-an pada masa Sunan Kalijaga.

Pada masa itu, Sunan Kalijaga mengajarkan ajaran Islam tentang saling memaafkan kepada masyarakat, yang kemudian berbaur dengan budaya setempat.

Pada saat itu, Sunan Kalijaga mengajarkan kepada masyarakat untuk membuat kue yang terbuat dari campuran beras ketan putih, santan, gula, dan garam.

Kemudian, setelah kue matang, Kanjeng Sunan meminta semua warga untuk berkumpul dan duduk bersama, lalu menjelaskan makna dari makanan tersebut.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore