
Bidan Desa Sejati Yuliani (kiri) menghibur Amira Hilyatun Nisak yang digendong dukun bayi Halisa di samping Subaidah (kanan) Selasa (30/1).
JawaPos.com – Seorang bapak bernama Fausi sedang memperhatikan burung perkutut peliharaannya di halaman rumah. Dia duduk sendirian di atas lencak menghadap ke selatan di Dusun Mandala Barat, Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Sampang. Sementara istrinya, Subaidah, sedang menyusui buah hatinya di teras rumah.
Perempuan berusia 30 tahun itu baru melahirkan anak ketiga. Bayi berjenis kelamin perempuan itu lahir seminggu yang lalu, tepatnya Selasa (23/1). Seperti biasa, bayi menangis setelah dilahirkan.
Hanya saja, Subaidah kepikiran karena putrinya tidak berhenti menangis sampai hendak mau dibawa pulang. Sebab, saat itu dia melahirkan di tempat praktik bidan desa. Ketika dicek, bidan menghitung jari tangan dan kaki bayi itu dan ternyata masing-masing ada enam.
”Anehnya, setelah itu anak saya tidak menangis lagi. Mungkin dia (bayi) menangis karena ingin ngasih tahu (kalau jarinya lain),” cerita Fausi kepada Jawa Pos Radar Madura (Jawa Pos Group).
Pria berusia 40 tahun itu mengaku kaget ketika melihat ada yang tidak umum pada organ tubuh putrinya. Meski begitu, dia tidak menganggap bahwa itu sebagai cacat fisik. ”Ini bagian anugerah dari yang Kuasa,” ujarnya.
Fausi dan Subaidah memberi nama putrinya Amira Hilyatun Nisak. Subaidah mengatakan, sejauh ini kesehatan Amira stabil. Dia rutin memberikan air susu ibu (ASI) kepada putrinya tersebut.
Ibu tiga anak itu tidak pernah mengalami hal-hal yang aneh selama mengandung Amira. Hanya, dia merasakan gerakan Amira lebih pasif dibandingkan kehamilan anak pertama dan kedua. Dia juga rutin datang ke pos pelayanan terpadu (posyandu) sejak masa kehamilan empat bulan.
”Kalau merasakan gerakan di dalam perut, saya sudah ada firasat kalau perempuan karena lebih pelan dibanding kakak-kakaknya,” tuturnya.
Subaidah tidak tahu penyebab jari tangan dan kaki putrinya tidak seperti bayi pada umumnya. Di lingkungan keluarga, tidak ada yang memiliki kelainan pada jari tangan atau kaki. Termasuk juga keluarga dari suaminya, Fausi.
Dia bercerita, pada saat usia kehamilan empat hingga lima bulan, Subaidah mengaku heran saat melihat kepiting. Menurutnya, jari-jari kepiting banyak. Dia melihat kepiting ketika bekerja di rumah makan di desanya.
”Tidak tahu kenapa, heran aja melihat kaki kepiting karena banyak,” ungkapnya.
Subaidah menyampaikan, pernah berembuk dengan keluarga besar terkait kondisi putrinya tersebut. Pihak keluarga sepakat untuk tidak memotong salah satu jari Amira. Sebab, kondisi jari tidak cacat dan berfungsi dengan normal.
”Kalau dipaksa operasi (dipotong), keluarga mengancam mau ngambil Amira,” papar Subaidah.
Amira memiliki dua kakak. Sulung bernama Arif Rahmatullah sudah duduk di bangku SMP. Sedangkan Adfan masih sekolah dasar (SD).
Bidan Desa Sejati Yuliani mengungkapkan, sejauh ini pihaknya melihat kondisi bayi dalam keadaan sehat. Namun, dia menyarankan pihak keluarga untuk rajin konsultasi. Khawatir, terjadi perubahan pada kesehatan dalam tumbuh kembang bayi.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
