
RAS ASLI INDONESIA: Kucing busok betina memiliki kaki belakang lebih panjang ketimbang kaki depannya. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
Patung Busok di Pelabuhan untuk Panggil Wisatawan
World Cat Federation (WCF) menobatkan busok sebagai kucing ras asli Indonesia. Saat itu juga, popularitas kucing berwarna mirip abu gosok (busok) tersebut melesat. Ironisnya, di Pulau Raas yang menjadi tempat asalnya, populasi kucing busok murni menipis.
SETELAH menghabiskan waktu lima jam di atas feri, tim Jawa Pos tiba di Pulau Raas pada akhir bulan lalu. Bayangan menjumpai banyak kucing busok sejak dari pelabuhan tak terwujud. Di jalanan utama menuju perkampungan warga, tidak tampak seekor kucing busok pun. Sonny Fahrizal, salah seorang pelestari kucing busok murni, menyebut fenomena itu memprihatinkan.
"Kondisinya memang seperti itu,” ujarnya. Pulau Raas boleh saja identik dengan kucing busok. Namun, menemukan kucing ras asli Indonesia yang menghuni pulau di wilayah Madura itu tidak mudah.
"Masyarakat belum teredukasi soal bagaimana menjaga kelestarian busok,” imbuh warga Pamekasan tersebut. Akibatnya, masyarakat membiarkan kucing-kucing busok kawin dengan kucing liar atau kucing kampung biasa. Perkawinan antarras itu membuat kemurnian busok tercemar. DNA-nya tidak murni lagi.
Photo
SETIA: Adhan mengangkat kucing busok betina peliharaannya. Kaki belakang kucing busok lebih panjang ketimbang kaki depannya. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
’’Mereka tahunya kalau induk melahirkan warna yang sama, ya sudah dianggap busok,” kata Sonny. Padahal, warna itu akan berubah saat kucing keturunan busok beranjak dewasa. Bukan hanya itu, meskipun keturunan busok, kucing hasil kawin campur tersebut tidak lagi membawa gen busok. Maka, keturunan yang dihasilkan berikutnya tidak lagi bisa disebut busok.
Di Raas, ada dua ras kucing lain yang juga banyak diburu. Yakni, kecubung dan lilac. Seperti halnya busok, populasi kecubung dan lilac pun kalah banyak jika dibandingkan kucing kampung di sana.
Sonny berharap ada campur tangan pemerintah dalam melestarikan kucing busok di tanah asalnya. Cara perawatan dan breeding yang benar sampai bagaimana memelihara kesehatannya. Selain itu, untuk menjaga kemurnian busok, dinas kesehatan setempat atau yayasan penyayang binatang perlu bertindak.
’’Tidak perlu sampai membasmi kucing liar. Cukup disterilisasi saja,” sarannya.
Sonny yang mengembangbiakkan kucing-kucing asli Raas sejak 2015 itu mengatakan bahwa melestarikan keturunan murni busok, kecubung, atau lilac justru lebih mudah dilakukan di luar pulau. Sebab, biasanya para breeder menyediakan tempat khusus untuk memelihara busok atau kecubung dan lilac. Benar-benar terpisah dari kucing kampung atau kucing liar.
Photo
RAS ASLI INDONESIA: Sorot mata kucing busok beringas pada orang tidak dikenal. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
’’Kucing asli Raas yang diakui dunia sudah manggung di mana-mana. Namanya sudah terangkat. Ini potensi yang harus dipertahankan,” kata pria kelahiran Sumenep itu.
Matsuri, penduduk Raas, sepakat dengan Sonny. Dia mendambakan pemerintah turun tangan sehingga Raas benar-benar menjadi pulau kucing busok. ’’Paling tidak di Raas ini kucing-kucing itu gampang ditemui. Tidak sekadar mem-branding nama dan tidak ada tindakan apa-apa,” kritiknya.
Minimnya tenaga kesehatan untuk hewan juga membuat Matsuri kesal. Suatu ketika, sebanyak 22 kucing yang dia pelihara terkena virus. Nyawa mereka tidak tertolong. ’’Mau diobati bagaimana? Di sini tidak ada dokter hewan yang bisa menangani kucing. Nyari obat juga harus ke Sumenep dulu,” paparnya.
Photo
PRESTASI: Sonny Fahrizal (kiri) memamerkan penghargaan yang diraih kucing-kucing busok peliharaannya pada akhir bulan lalu. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
Belakangan, tantangan bagi para penyayang kucing asli Raas bertambah. Ada oknum-oknum yang sengaja menangkapi kucing busok, kecubung, atau lilac untuk dijual mumpung pamornya naik. ’’Banyak yang hilang,” kata Matsuri.
Warga sampai memasang papan peringatan yang berisi larangan menangkap kucing-kucing di pulau tersebut. Namun, papan-papan itu dirusak orang tak dikenal. ’’Yang rugi bukan kami saja. Melainkan juga yang mengadopsi kucing dari orang tidak bertanggung jawab itu. Belum tentu kucing itu murni busok atau kecubung atau lilac,” terangnya.
Sebagai penduduk asli Raas yang juga peduli pada busok, Matsuri menginginkan ada monumen yang menunjukkan bahwa pulau tempat tinggalnya itu adalah habitat asli kucing berbadan ramping tersebut. Tidak muluk-muluk, cukup dengan menambahkan patung kucing asli Raas di pelabuhan. Itu akan menjadi sambutan yang menyenangkan bagi pelancong. "Itu akan menjadi daya tarik tersendiri. Jangan sampai identitas ini hilang,” tandasnya.
Photo
RAS ASLI INDONESIA: Sorot mata kucing busok beringas pada orang tidak dikenal. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
