alexametrics

Perkutut Bisa Jadi Pengobat Rindu Pelatih PSIM Jogja Seto Nurdiantoro

10 Januari 2021, 16:48:01 WIB

Seto Nurdiantoro ogah sembarangan memelihara burung berkicau. Ada dua jenis burung favoritnya: murai batu dan jalak bali. Namun, kini dia berpindah ke perkutut. Mengapa?

SETO Nurdiantoro jatuh cinta pada dunia kicau sejak tujuh tahun silam. Tepatnya saat kali pertama terjun sebagai pelatih. Tak heran, sudah banyak jenis burung yang dia pelihara.

Namun, dari sekian banyak jenis burung, murai batu dan jalak bali jadi favoritnya. Pelatih PSIM Jogjakarta itu punya alasan. Untuk murai batu, dia mengaku senang dengan kicauannya yang merdu. ’’Saya senang dengerin suaranya pas santai. Bagus, indah. Enak di telinga,’’ kata Seto.

Lalu, bagaimana dengan jalak bali? Seto suka jenis burung itu lebih karena kepercayaan. ’’Kalau jalak bali, filosofinya kan setia. Jadi, bagus untuk dipelihara,’’ terang mantan pelatih PSS Sleman tersebut.

Bagi dia, filosofi setia cukup penting. Sebab, sama dengan melatih klub, pelatih dituntut untuk setia. Bagaimanapun kondisi timnya.

Saking senangnya dengan jalak bali, pelatih 46 tahun itu sempat blusukan. Tepatnya saat menangani PSS Sleman pada 2017. Saat itu timnya harus away ke Blitar. Sesampai di tujuan, Seto tidak langsung fokus ke laga tersebut. ’’Tapi, saya sempatkan cari jalak bali di Blitar dulu. Ya lihat-lihat aja sih, siapa tahu ada yang bagus,’’ ucapnya, lantas tertawa.

Seto memang sempat punya banyak koleksi burung berkicau. Namun, kini semua koleksinya sudah lenyap. Bukan hilang. ’’Memang sengaja saya kasih ke teman-teman,’’ ungkapnya. Termasuk dua burung favoritnya, murai batu dan jalak bali. Seto bukannya sudah tidak cinta pada burung berkicau. Tapi, kesibukan di lapangan hijau memaksanya melakukan itu.

Sebagai pelatih, nyaris setiap hari dia harus memimpin tim. Belum lagi kalau skuad melakoni laga away. Dia bisa meninggalkan rumah sampai dua pekan. Masalahnya, Seto tidak percaya jika burung berkicaunya dirawat orang lain. ’’Dulu sempat dititipkan ke orang kalau saya pergi. Tapi, lama-lama nggak enak juga. Soalnya, saya lebih suka merawat sendiri,’’ tegas pelatih kelahiran 14 April 1974 tersebut.

Namun, hal itu tak lantas menghilangkan rasa cintanya pada burung berkicau. Sebagai gantinya, Seto memelihara burung perkutut. Saat ini ada lima perkutut yang dipelihara di rumahnya. Jenisnya beragam. Mulai perkutut putih sampai hitam. Baginya, perkutut jadi obat rindu pada murai batu dan jalak bali. ’’Suaranya ramai. Memeliharanya juga nggak sulit,’’ tuturnya.

Karena itu, Seto tak ragu memelihara perkutut. Kalaupun nanti kompetisi sepak bola dimulai lagi, dia tidak lagi kepikiran. ’’Ditinggal seminggu nggak masalah. Nggak seperti burung berkicau yang merawatnya lebih sulit, karena harus dipastikan kondisinya setiap hari,’’ jelas pria yang juga pernah melatih tim Pra-PON Jogjakarta 2016 tersebut.

Baca Juga: Dapat Untung dari Penangkaran Perkutut Majapahit, Bisa Laku Rp 40 Juta

Toh, perkutut bukan burung sembarangan. Bagi suku Jawa, perkutut identik dengan kalangan terpandang. Maklum, dulu perkutut hanya dipelihara priayi. ’’Kebetulan, saya juga orang Jawa. Jadi sreg sama perkutut,’’ ujar Seto.

Saat ini Seto tinggal di salah satu perumahan di Sleman. Meski rumahnya di tengah kota, dia tetap merasa nyaman. ’’Karena banyak suara burung. Mulai perkutut sampai murai batu. Jadi, suasananya sama seperti sedang di hutan,’’ papar pria yang kala aktif bermain pernah memperkuat Persiba Bantul itu.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gus/c18/git


Close Ads