alexametrics

Dapat Untung dari Penangkaran Perkutut Majapahit, Bisa Laku Rp 40 Juta

3 Januari 2021, 17:07:22 WIB

Di Ngawi ada perkampungan yang khusus menangkarkan perkutut majapahit. Burung itu diburu penggemar karena langka.

PEKARANGAN samping rumah Umar Sono tak ubahnya seperti panggung konser musik. Setiap pagi ataupun sore, tidak kurang dari 240 ekor perkutut miliknya manggung. Sekilas kicauannya memang terdengar sama. Tapi, saat mendekat ke empat kandang besar milik salah seorang peternak perkutut di Desa Pelang Lor, Kedunggalar, Ngawi, itu, ratusan perkutut tersebut terlihat mempunyai warna yang berbeda antara satu dan lainnya.

’’Di tiga kandang ini perkutut jenis biasa, kotak satunya khusus perkutut majapahit,’’ kata pemilik kandang.

Ki Cantuk, begitulah pria 42 tahun itu dipanggil, memiliki setidaknya lima jenis perkutut majapahit yang berada dalam 20 kotak di satu kandang paling pojok di pekarangannya.

Lima jenis tersebut adalah udan mas majapahit, cemani majapahit, moka majapahit, putih majapahit, dan mega mendung majapahit.

Dia memerinci, udan mas majapahit mempunyai bulu putih keemas-emasan, sedangkan cemani majapahit cenderung berwarna hitam. Moka majapahit berwarna cokelat, mega mendung dominan warna putih keabu-abuan, dan putih majapahit memiliki warna bulu dominan putih.

’’Tapi, semuanya punya ciri khas khusus majapahit, kayak garis-garis batik di leher yang tidak putus dan corak putih di pangkal ekornya,’’ ungkapnya.

Tak hanya ciri khas itu, masih kata Ki Cantuk, jenis putih majapahit dan udan mas majapahit mempunyai mata kemerah-merahan. Akhir-akhir ini, perkutut majapahit memang menjadi burung yang sering dicari, khususnya putih majapahit. Karena warnanya putih polos seperti kelainan gen albino, jenis tersebut langka. Jenis putih majapahit miliknya pernah ditawar Rp 8,5 juta. Namun, yang termahal tetap majapahit katuranggan dengan ciri jambul di kepalanya.

’’Harganya bisa Rp 40 juta lebih,’’ ujarnya.

Tingginya harga perkutut majapahit tidak terlepas dari mitos legenda yang menyertai burung yang sering ditemui di Jawa Timur itu. Konon, berdasar cerita masyarakat setempat, perkutut majapahit merupakan jelmaan pangeran Kerajaan Majapahit yang di-sabdo. Dari situlah namanya disebut perkutut majapahit. Terlepas dari itu, Ki Cantuk mengatakan bahwa perkutut majapahit sejak zaman Kerajaan Majapahit menjadi salah satu hewan peliharaan.

’’Selain antik, perkutut majapahit dipercaya sebagian orang bisa mendatangkan rezeki dan kebahagiaan bagi pemiliknya,’’ terang ayah dua anak itu.

Baca Juga: Trik agar Ocehan Anis Kembang Lama dan Keras

Seperti halnya legenda perkutut majapahit yang mendatangkan rezeki, Ki Cantuk juga merasakan ketiban rezeki setelah memutuskan beternak perkutut. Sebelumnya, Ki Cantuk hanya penggembala kambing. Namun, setelah menderita sakit ginjal pada 2016, dia tidak boleh bekerja berat seperti angkat pakan kambing. Akhirnya, pada tahun yang sama, dia coba-coba untuk beternak perkutut majapahit.

Kesabaran dan keuletannya dalam mengembangbiakkan perkutut majapahit berbuah manis. Dengan modal awal Rp 38 juta, hanya butuh dua tahun dia bisa untung ratusan juta rupiah. Bahkan, pada 2018 itu dia mampu membeli Xenia R murni hasil beternak perkutut majapahit. ’’Setiap ada burung anakan yang baru berusia 1,5 bulan, para pedagang langsung memburunya. Setiap ekornya saya jual Rp 450 ribu,’’ jelasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : mg3/c7/git


Close Ads