
GAMES LIPAT SEPEDA: Salah satu aktivitas seru yang dilakukan komunitas Bikeberry dalam rangka gowes tujuh belasan. (Dimas Maulana/Jawa Pos)
JawaPos.com - Komunitas sepeda biasanya akan spesifik mengotak-ngotakkan brand sepeda yang dipakai. Namun, tidak dengan Bikeberry. Komunitas sepeda asal Surabaya itu lebih fleksibel dengan pemilihan sepeda apa saja yang dipakai para anggotanya. Mulai sepeda lipat, sepeda roadbike, bahkan sepeda keranjang yang biasa dibawa ke pasar. Motonya, yang penting sepedaannya bukan apa sepedanya. Begitulah yang selalu digaungkan komunitas yang berdiri sejak 2008 silam tersebut.
Namun, tidak berarti mereka juga tak megikuti tren. Karena saat ini trennya adalah seli, hampir 100 persen anggota Bikeberry pasti punya sepeda jenis tersebut. ”Kami rata-rata memang nggak hanya satu sepeda. Jadi, kalau misal touring gitu kami buat kesepakatan. Yang mau PP biasanya bakal pakai sepeda yang nggak bisa dilipat. Kalau yang mau berangkatnya aja, dan pulang naik kereta, mereka bakal pakai seli,” jelas public relation Bikeberry Fahmi Ndut.
Sudah berdiri hampir 12 tahun, komunitas yang kini anggotanya mencapai 300 orang itu tentu punya agenda menarik tiap tahunnya. Salah satunya, yaitu Tour de Madura (TDM). ”Yang menarik dalam TDM ini sebenarnya petualangannya. Dulu sebelum ada Suramadu kami ke Madura pasti naik kapal. Pulangnya pasti kami bawa banyak cerita seru dari Madura itu,” ceritanya.
Petualangan tersebut sebenarnya sangat melelahkan karena udara yang panas, angin yang tidak bersahabat, hingga jalanan yang masih terbuat dari batu kapur. Bahkan, anggota Bikeberry mengaku akan kapok dengan perjalanan tersebut.
”Istilahnya ’kapok lombok’. Pulang dari TDM biasanya nggak ada yang mau lihat sepeda lagi karena saking capeknya. Tapi ya gitu, begitu ada lagi, langsung pada ikut lagi,” kenangnya.
Hal-hal gila lainnya yang biasa dilakukan komunitas yang lahir pada 28 Oktober itu adalah Telo Challenge yang diagendakan dua bulan sekali. Agenda tersebut biasa dilakukan anggota dengan mengundang komunitas sekitar. Yakni, gowes minimal 75 kilometer. Rekor paling jauh yang pernah mereka pecahkan adalah gowes sejauh 150 kilometer di area Surabaya Raya. ”Inilah kenapa namanya Telo Challenge. Kaki jadi hitam kayak telo bakar setelah gowes jauh,” jelas Fahmi, lantas tertawa.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
