alexametrics

Ikan Discus, Si Kurus yang Tak Mudah Diurus

6 September 2020, 15:48:38 WIB

Discus memikat hati para penghobi ikan berkat keelokan corak tubuhnya yang mampu menandingi keindahan ikan-ikan cantik di bawah laut. Ternyata menikmati keindahan si kurus itu tidak mudah. Namun, justru di situlah seninya. Tantangannya.

”Untuk pemula, sebaiknya pelihara discus yang berapa inci?’’ tanya seorang newbie di grup Penghobi Discus Surabaya. Diskusi asyik pun terjadi. Salah seorang member mengusulkan minimal 2 inci. Member lainnya menyebut lebih aman di atas 3 inci karena ikan dengan umur yang cukup lebih kuat bertahan.

Ada juga yang mengusulkan, sebelum memutuskan untuk membeli ikan, sebaiknya pikirkan airnya. Ikan bernama Latin Symphysodon discus itu hanya bisa hidup di air yang sangat bersih. Biasanya, penghobi ikan berpostur pipih tersebut menggunakan air isi ulang atau air mineral galonan. Minimal air endapan.

Untuk tahap penyaringan, member lain menyarankan ukuran filter setidaknya 30 persen dari volume akuarium. Di dalam filter itu, harus ada bio ring atau crystal bio, kapas putih, dan arang aktif. ”Jangan lupa P3K discus. Misalnya, garam ikan dan Pomate. Kebanyakan ikan mati karena tidak siap obat,” papar member lain.

Wah, ribet juga ya. Namun, bukannya menyerah, si newbie malah makin bersemangat memulai petualangannya mengurus si kurus.

Saat ditemui Jawa Pos pada Kamis (3/9), Kevin Arnisto Vara, salah seorang penghobi discus, mengamini semua keribetan itu. Soal air, dia mewajibkan kadar pH (power of hydrogen) antara 6,5–7,5. Tingkatan itu sudah lebih tinggi daripada standar air yang boleh diminum manusia. Selain itu, TDS (total dissolved solids) perlu diperhatikan. Untuk satu akuarium, TDS tidak boleh lebih dari 100 ppm atau mg/l. ”Makanya, selama ini pakai air mineral galon. Kalau nggak gitu, rewel,” ungkap Kevin.

Kualitas air memang selalu menjadi problem utama dalam memelihara diskus. Termasuk temperatur air. Untuk menjaga suhu air tetap berkisar 26–30 derajat Celsius, Kevin juga memasang heater alias penghangat di akuariumnya. Aerator pun harus selalu hidup. Biasanya, penghobi menyiagakan aerator bertenaga baterai untuk mengantisipasi listrik padam.

Setelah tiga tahun merawat ikan-ikan kalem tersebut, kini Kevin memiliki sembilan akuarium yang dipenuhi hampir seratusan ekor discus di rumahnya. Enam di antara sembilan akuarium itu berisi berbagai jenis. Tiga akuarium lainnya khusus dipakai untuk karantina jika ada yang sakit. Mayoritas koleksi ikannya berukuran 2 inci. Yang paling besar dan paling tua adalah indukan Leopard berukuran 5 inci. ”Awalnya, ada dua indukan. Satunya Blue Diamond, tapi mati,” kenang pemuda 18 tahun tersebut.

Baca Juga: Rentetan ’’Tembakan” Murai Batu bernama Sincan yang Menggoda Telinga

Kini koleksi-koleksi ikan discus mewah sudah dimiliki Kevin. Sebut saja Leopard, Blue Diamond, Red Melon, Leopard Snake Skin, Pigeon, Pigeon Checkerboard, Golden Yellow, Scribble Snake, Blue Cobalt, White Pigeon, dan Alenquer. Semuanya memiliki keelokan corak khas yang membikin mata adem. Apalagi kalau mereka sedang membentuk formasi berbaris. Makin cakep. ”(Rasanya, Red) nggak tahan kalau lama nggak lihat ’anak-anak’ itu,” celetuknya.

Bahkan, ada beberapa koleksinya yang sering diincar penghobi discus. Di antaranya, Red Melon, Golden Yellow, White Butterfly, dan Blue Diamond. Ada satu yang dulu sempat tidak diminati, tetapi sekarang diincar banyak orang. Yakni, Blue Diamond yang memiliki dominan biru di seluruh tubuhnya. ”Menurut saya, cuma discuslah ikan yang pas ditempatkan pada akuarium dengan konsep aquascape,’’ tutur Kevin.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : zam/c14/cak



Close Ads