Karakter Yasuke di Assassin
JawaPos.com - Dalam beberapa game, terutama game bertarung, kita bermain memerani pahlawan lalu bertarung dan melakukan aksi epik. Dalam game fantasi, kita bisa melihat hal yang tidak ditawarkan oleh realitas, mengalahkan pasukan besar, berakhir di pelukan kekasih yang menawan, atau menjelajahi galaksi dalam petualangan tanpa tanding. Namun, hal itu perlu memperhatikan keseimbangan.
Bagaimana jika seorang karakter memiliki kekuatan yang sangat kuat, bisa mengalahkan apa saja? Beberapa orang akan sulit untuk peduli kepada mereka atau perjuangan yang mereka alami jika tidak ada tantangan bagi pemain untuk berempati, baik secara naratif maupun mekanis. Lalu, bagaimana jika Assassin's Creed Shadows memiliki karakter yang seperti itu?
Mengutip dari TheGamer.com, berikut beberapa faktor mengapa tidak ada alasan yang baik dalam memiliki karakter Yasuke di Assassin's Creed Shadows.
Yasuke Terlalu Kuat
Saat Anda memainkan Yasuke, Anda akan bertemu Oda Nobunaga dan segera direkrut ke dalam Shogunate-nya. Tak lama setelah itu, cerita berlanjut di medan perang, di mana Yasuke dengan mudah menebas gerombolan bandit. Gameplay-nya terasa memuaskan, ia dapat menendang musuh ke ladang padi yang terbakar dan menebas lawan dengan pedangnya secepat pisau memotong mentega hangat.
Di Assassin's Creed Shadows, permainan dimulai dengan tempo lambat saat pemain beralih mengendalikan Naoe di wilayah Settsu yang kecil namun makmur. Di sini, Anda perlu membangun aliansi, mendirikan markas persembunyian, dan mencari tahu apa sebenarnya yang sedang diperjuangkan. Ini adalah pengenalan yang efektif yang memungkinkan pemain menjelajahi hampir seluruh map dunia, dengan menghukumnya bagi yang nekat ke level lebih tinggi. Hal ini membuat pemain lebih memilih tetap berada di markas, untuk mempelajari mekanik permainan, mencoba perlengkapan baru, dan menguasai seni shinobi. Secara keseluruhan, hal ini terasa sangat memuaskan.
Naoe hanya bisa menahan serangan sebelum mati, tetapi dia bisa menggunakan pedang, belati, dan senjata lainnya memungkinkan pemain untuk tetap menang dalam banyak pertempuran, asalkan mereka memahami teknik parry dan menghindar dengan baik. Bermain secara gegabah pastinya akan membawa kehancuran, tetapi hal ini secara perlahan melatih pemain untuk lebih berhati-hati dalam bertarung dan memilih pertempuran dengan bijak. Game ini menekankan elemen stealth sebagai strategi utama, namun tidak serta-merta menghukum pemain yang memilih konfrontasi langsung.
Naoe adalah karakter paling seimbang yang pernah ada dalam seri Assassin's Creed, hingga Yasuke muncul dan merusak semuanya.
Jadi, Tidak Ada Keinginan untuk Bermain sebagai Samurai yang Tak Terhentikan
Jangan salah paham, kritik ini bukan ditujukan pada karakter Yasuke, karena sebenarnya akting dia lebih baik daripada Naoe. Kisahnya tidak sekadar didorong oleh keinginan membalas dendam, tetapi juga menggali perannya sebagai orang asing di negeri yang tidak dikenalnya, yaitu mencari tujuan baru setelah kehilangan tuannya. Sayangnya, permainan tidak memberikan cukup waktu untuk mengembangkan aspek ini setelah Yasuke bergabung dengan tim.
Ia sendiri berperan dalam kehancuran hidup Naoe dengan memungkinkan kematian ayahnya di awal cerita, tetapi konflik ini langsung diabaikan begitu saja. Tak lama setelah itu, mereka berdua terlihat minum bersama seperti sahabat lama. Assassin's Creed Shadows kembali pada formula lamanya, menghadirkan serangkaian cerita kecil yang berfokus pada target tertentu, daripada membangun narasi yang kohesif dengan perkembangan karakter yang berarti.
Tentu saja, hal ini mengakibatkan pemain merasa tidak ada alasan kuat untuk peduli terhadap penderitaan Yasuke hingga semuanya terasa terlambat. Memusatkan cerita pada satu karakter dan benar-benar mendalami perspektifnya akan menjadi pendekatan yang lebih efektif. Meskipun niat Ubisoft dalam menghadirkan dua protagonis bisa dipahami, eksekusinya gagal memberikan dampak yang diharapkan.
Yasuke yang begitu kuat menghilangkan tantangan dalam pertempuran. Jika sebelumnya penting untuk menghindar, parry, dan memilih pertarungan dengan hati-hati, semua itu terasa sia-sia saat kita memakai Yasuke karena dia mampu menahan sebagian besar serangan. Memang, jika pemain tidak menekan tombol apa pun atau diserang oleh banyak musuh sekaligus, ada sedikit perlawanan, tetapi fakta bahwa ini perlu dijelaskan menunjukkan masalahnya.
Meskipun lebih unggul dalam pertempuran dibandingkan Naoe, Yasuke jauh lebih terbatas dalam aspek lain. Ia kesulitan melakukan parkour, sulit bersembunyi karena tubuhnya besar, dan bahkan leap of faith-nya terlihat kikuk. Akibatnya, opsi utama yang tersisa adalah bertarung secara langsung, yang justru mengurangi keseruan permainan.
Baca Juga: Mengenal Berbagai Role di Game Marvel Rivals dan Penjelasannya

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
