
JADI BURUAN: Acipenser ruthenus atau ikan sturgeon menjadi buruan, baik secara legal maupun ilegal. Karena termasuk spesies ikan kuno atau primitif, segala unsur dari ikan ini sangat berharga. Termasuk, daging dan telur sturgeon yang laris manis dikonsums
Tidak banyak satwa purba yang masih bertahan keberadaannya sampai saat ini. Di dunia ikan hias, ada nama sturgeon. Saat ini, ikan tersebut menjadi objek perburuan, baik secara legal lewat perdagangan maupun yang ilegal. Akibatnya, harganya jadi mahal.
---
PARAS sturgeon mirip hiu. Terutama bagian ekornya. Siripnya sedikit dan memiliki moncong yang agak panjang. Tubuhnya mirip seperti tameng dan kulitnya halus tanpa sisik. Lalu, di bawah moncongnya itu ada empat helai kumis atau organ sensorik yang disebut barbell. Fungsinya adalah membantu merasakan pergerakan mangsa di perairan keruh nan gelap. Nah, ikan itu bernama sturgeon atau sering disapa Acipenser ruthenus.
Salah seorang penghobi yang memelihara ikan tersebut adalah Fahriza Fiqhi Ardi. Menurut dia, memahami ikan sturgeon tidaklah cukup membaca satu literatur saja. Harus dari banyak sumber. Mengingat, ikan tersebut, selain dinikmati di dalam akuarium, juga kerap disantap menjadi hidangan makan malam. Terutama di Benua Eropa.
”Di Rusia, ikan ini dikonsumsi,” ucapnya Rabu lalu (25/11). Pria 28 tahun itu mengungkapkan, ikan sturgeon atau memiliki nama lain sterlet merupakan salah satu spesies ikan kuno di dunia. Menjadi salah satu anggota ikan tertua dari kelompok ikan bertulang (Osteichthyes) dengan evolusinya dapat dilacak ke awal periode Trias, hampir 250 juta tahun yang lalu.
Tak ayal, ikan tersebut, selain dipelihara sebagai penghias akuarium, memiliki nilai komersial cukup tinggi.
”Ini dipasarkan hidup-hidup. Bisa dikonsumsi mentah, cukup ditambah garam,” ungkapnya. Ketertarikan Fahriza pada sturgeon terjadi sejak lama. Semenjak masih menggeluti dunia reptil beberapa tahun silam.
Dia mengungkapkan, salah satu nilai komersial terbesar dari sturgeon adalah telurnya. Di Rusia dan Eropa, pada umumnya telur ikan tersebut sangat diminati. ”Telurnya disebut kaviar. Banyak yang cari dan mahal. Per 500 gram kaviar premium dihargai Rp 90 juta,” tuturnya, lantas terbahak. Kendati demikian, Fahriza lebih tertarik dengan karakteristik ikan predator itu yang ”selow” dan tidak usil.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
