Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 November 2020 | 00.13 WIB

Acipenser Ruthenus, Ikan Primitif yang Tetap Eksis

JADI BURUAN: Acipenser ruthenus atau ikan sturgeon menjadi buruan, baik secara legal maupun ilegal. Karena termasuk spesies ikan kuno atau primitif, segala unsur dari ikan ini sangat berharga. Termasuk, daging dan telur sturgeon yang laris manis dikonsums - Image

JADI BURUAN: Acipenser ruthenus atau ikan sturgeon menjadi buruan, baik secara legal maupun ilegal. Karena termasuk spesies ikan kuno atau primitif, segala unsur dari ikan ini sangat berharga. Termasuk, daging dan telur sturgeon yang laris manis dikonsums

Tidak banyak satwa purba yang masih bertahan keberadaannya sampai saat ini. Di dunia ikan hias, ada nama sturgeon. Saat ini, ikan tersebut menjadi objek perburuan, baik secara legal lewat perdagangan maupun yang ilegal. Akibatnya, harganya jadi mahal.

---

PARAS sturgeon mirip hiu. Terutama bagian ekornya. Siripnya sedikit dan memiliki moncong yang agak panjang. Tubuhnya mirip seperti tameng dan kulitnya halus tanpa sisik. Lalu, di bawah moncongnya itu ada empat helai kumis atau organ sensorik yang disebut barbell. Fungsinya adalah membantu merasakan pergerakan mangsa di perairan keruh nan gelap. Nah, ikan itu bernama sturgeon atau sering disapa Acipenser ruthenus.

Salah seorang penghobi yang memelihara ikan tersebut adalah Fahriza Fiqhi Ardi. Menurut dia, memahami ikan sturgeon tidaklah cukup membaca satu literatur saja. Harus dari banyak sumber. Mengingat, ikan tersebut, selain dinikmati di dalam akuarium, juga kerap disantap menjadi hidangan makan malam. Terutama di Benua Eropa.

”Di Rusia, ikan ini dikonsumsi,” ucapnya Rabu lalu (25/11). Pria 28 tahun itu mengungkapkan, ikan sturgeon atau memiliki nama lain sterlet merupakan salah satu spesies ikan kuno di dunia. Menjadi salah satu anggota ikan tertua dari kelompok ikan bertulang (Osteichthyes) dengan evolusinya dapat dilacak ke awal periode Trias, hampir 250 juta tahun yang lalu.

Tak ayal, ikan tersebut, selain dipelihara sebagai penghias akuarium, memiliki nilai komersial cukup tinggi.

”Ini dipasarkan hidup-hidup. Bisa dikonsumsi mentah, cukup ditambah garam,” ungkapnya. Ketertarikan Fahriza pada sturgeon terjadi sejak lama. Semenjak masih menggeluti dunia reptil beberapa tahun silam.

Dia mengungkapkan, salah satu nilai komersial terbesar dari sturgeon adalah telurnya. Di Rusia dan Eropa, pada umumnya telur ikan tersebut sangat diminati. ”Telurnya disebut kaviar. Banyak yang cari dan mahal. Per 500 gram kaviar premium dihargai Rp 90 juta,” tuturnya, lantas terbahak. Kendati demikian, Fahriza lebih tertarik dengan karakteristik ikan predator itu yang ”selow” dan tidak usil.


Untuk perawatannya, sturgeon tergolong antirewel. Menggunakan air PDAM tanpa endapan pun, ikan tersebut sudah dapat hidup dan berkembang. Terkait suhu, Fahriza juga tidak terlalu khawatir karena ikan kuno tersebut terbilang tahan banting. Dapat hidup pada rentang suhu air 30−32 derajat Celsius. Meski, di iklim aslinya, ikan tersebut mampu bertahan pada suhu 10−18 derajat Celsius.

Pakannya juga tidak merepotkan dan mudah didapat. Cukup diberi cacing atau cacahan udang. Volume pakannya pun tidak terlalu banyak. Sebab, sturgeon tidak tergolong ikan rakus. Ia menyukai substrat (dasar akuarium) berpasir dan berkerikil. Tak jarang, pakan diletakkan di permukaan pasir dan langsung dilahapnya.

Menurut Fahriza, setidaknya ada 20 jenis sturgeon yang tersebar di seluruh dunia. Termasuk Indonesia dan negara di Asia Tenggara lainnya. Nah, yang paling banyak dipelihara di Indonesia adalah jenis Acipenser ruthenus dan Acipenser diamond. Mayoritas ikan milik pemuda asal Surabaya itu berukuran 10 sentimeter dari jenis Acipenser ruthenus berasal dari Iran, tetapi telah diternak di Thailand. ”Di ASEAN, hanya dua (negara) yang berhasil breeding (mengembangbiakkan). Yaitu, Thailand dan Malaysia,” katanya.

Harga sturgeon terbilang cukup mahal. Desember tahun lalu, Fahriza membeli ikan berukuran 10 sentimeter dengan harga Rp 400 ribu−Rp 600 ribu. Dan sempat terjual pada rentang Rp 2 juta−Rp 3 juta dengan ukuran 32 sentimeter. ”Yang jenis diamond itu lumayan mahal. Ukuran 50 sentimeter kisaran harganya Rp 9 juta−Rp 12 juta. Yang paling mahal lagi juga ada. Jenisnya beluga,” imbuhnya.

Karena bentuk tubuhnya yang mirip antara satu dengan lainnya, untuk menentukan jenis kelamin sturgeon, dibutuhkan alat ultrasonografi alias USG. Saat ikan berukuran 30−40 sentimeter, dapat diterawang bahwa si betina telah memiliki kantong telur. Sekali bertelur bisa mengeluarkan 15−44 ribu butir.

Fahriza sendiri berkeinginan mengunjungi Thailand dalam waktu dekat. Tujuannya adalah mengetahui cara yang tepat mengembangbiakkan ikan purba itu. Apalagi, harga kaviar cukup mahal yang membuat sturgeon menjadi target perikanan komersial legal. Populasi ikan ini juga terancam akibat operasi perburuan ilegal. ”Setidaknya upaya kecil ini dapat menjaga mereka untuk tetap ada dan tidak punah,” pungkasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=o2B2uIbmDls

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore