Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 November 2020 | 23.16 WIB

Maaf, Cupang Halfmoon Marble Milik Alexander Chandra Not for Sale!

SANG JUARA: Cupang halfmoon marble milik Alexander Chandra dari Runaway Fish Jakarta menyabet gelar Best of Show di Surabaya Infinity Betta War 2020. (Guslan Gumilang/Jawa Pos) - Image

SANG JUARA: Cupang halfmoon marble milik Alexander Chandra dari Runaway Fish Jakarta menyabet gelar Best of Show di Surabaya Infinity Betta War 2020. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

Salah satu pencapaian tertinggi para penghobi ikan cupang adalah menjuarai kontes. Itu pula yang dirasakan Alexander Chandra dari Runaway Fish Jakarta. Halfmoon marble miliknya sukses menyabet gelar juara di ajang Surabaya Infinity Betta War 2020 untuk tiga kategori sekaligus. Tentu, setelah kemenangan itu, banyak yang mengincar cupang miliknya tersebut. Namun, kepada mereka semua, Chandra memastikan ikan supercantik itu ”not for sale!”.

---

Tiga gelar juara yang berhasil disabet Chandra pada kontes itu adalah Best of Division (BOD), Best of Show, dan terbaik di kategori single tail halfmoon. Kemenangan itu terasa lebih istimewa lantaran halfmoon yang dijagokannya tersebut baru kali pertama turun kontes.

”Iya, ikan ini baru ikut kontes dan langsung juara,” bangga Chandra yang ditemui Jawa Pos di lokasi kontes Lave Mall Sungkono, Sukomanunggal. Kontes yang digelar 30 Oktober–1 November lalu itu diikuti peserta dari seluruh Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Hongkong. Melombakan 61 kelas dengan jumlah peserta mencapai 1.500 cupang.

Cristian Candra, handler yang mendampingi ikan juara itu selama kontes, memastikan kemenangan tersebut diraih bukan hanya lantaran faktor keberuntungan, melainkan setelah melalui proses yang sangat panjang. Mulai pembiakan hingga pelatihan yang tidak sederhana.

Halfmoon marble milik Chandra itu memang dipersiapkan untuk kontes. Secara genetik, cupang berwarna dasar putih dengan totol-totol biru tersebut lahir dari indukan yang juga juara di beberapa kontes sebelumnya. ’’Genetic never lies (faktor genetik itu tidak bisa berbohong),’’ yakinnya. Karena itu pula, semua penghobi cupang kontes menjadikan elemen genetika sebagai prasyarat wajib untuk menghasilkan anakan berkualitas.

Maka, wajar saja setelah memenangi kontes tersebut, banyak penghobi yang merayu Chandra untuk melepas halfmoon miliknya. ”Tapi, memang belum bahas nominal dan nego harga. Pemilik sudah bilang kalau not for sale,” ungkap Cristian. Apalagi, pemenang kategori Best of Show (BOS) sudah pasti harganya selangit. ”Mayoritas ikan BOS itu akan di-breeding (dibiakkan),” imbuh Cristian.

Untuk menghasilkan anakan jago kontes, pemijahannya pun tidak sembarangan. Ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan. Di antaranya, tempat pemijahan dibuat semirip mungkin dengan habitat aslinya.

Kemudian, waktunya. Idealnya, waktu pemijahan dilakukan saat suhu udara relatif hangat. Artinya, sebisa mungkin dilakukan di luar musim hujan. ”Bisa sih pakai heater (penghangat). Tapi, (selama ini) jarang kepakai (tidak bisa maksimal),’’ tandasnya.

Untuk yang baru mau mulai ikut kontes, Cristian memberikan masukan agar tidak malu-malu bertanya kepada penghobi lain yang lebih berpengalaman. Bisa dengan cara bergabung dalam komunitas. Tujuannya, memahami kriteria ikan yang akan diikutkan kontes. Baik warna maupun bentuk tubuhnya. Dengan begitu, bisa diketahui apakah ikan yang akan diturunkan sudah layak bertarung dalam sebuah kontes atau belum. ”Jadi, nggak asal-asalan nurunin ikan,” katanya.

David Wanandi, ketua penyelenggara kontes sekaligus pemilik akun Instagram @23plakatsuperfish, menyebutkan bahwa beberapa kategori yang dilombakan adalah single tail halfmoon, double tail halfmoon, crown tail, plakat, dan giant. Kemudian, untuk kategori opsional, ada kategori female (betina), junior, form, dan finnage. Serta kategori spesial untuk black series.


Untuk penilaian, David menghadirkan beberapa juri yang telah memiliki sertifikat internasional sesuai dengan standar International Betta Congress (IBC). ”Nggak main-main kalau menilai cupang itu. Harus jeli dan teliti. Mereka (juri) dituntut mencari paling sedikit kekurangan dari ikan itu,” tuturnya.

Menurut juri asal Bandung Adi Guna Dharma, salah satu faktor penting dalam penilaian kontes adalah mental. Itu bisa dilihat saat ikan sedang ngedok (membuka cuping insang) kala dihadapkan dengan ikan lainnya. Untuk jenis halfmoon yang mayoritas menampilkan keindahan sirip dan ekor, Adi menyatakan, bentuk ekornya harus bisa mengembang 180 derajat. ”Misalnya, ekor terlihat berlipat (tidak mengembang secara penuh) itu sudah menjadi kesalahan (nilai kurang),” ungkap pria yang sudah lebih dari setahun menjadi juri kontes tersebut.

Saksikan video menarik berikut:

https://youtu.be/u16Rt2v1DBk

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore