
Photo
JawaPos.com- Menjelang Lebaran, bandeng kawak atau berukuran jumbo hanya bisa dijumpai di Kota Gresik. Sebab, ada tradisi pasar bandeng, yang sudah turun temurun sejak ratusan tahun. Lokasinya, di sepanjang Jalan Gubernur Suryo, Jalan Samanhudi, Jalan Cokroaminoto hingga Jalan Raden Santri.
Ada begitu banyak olahan ikan bandeng di pasaran. Yang sudah dikenal luas. Mulai presto, otak-otak, bandeng asap, bandeng tanpa duri, sate bandeng, bandeng keropok dan aneka ragam masakan lainnya. Namun, bagi sebagian masyarakat Gresik, ada satu jenis olahan khas untuk bandeng kawak. Yakni, pindang bandeng.
Pindang pandeng biasanya disajikan sebagai salah satu altenatif menu Lebaran. Makan ramai-ramai bersama keluarga. Olahan itu masih kerap ditemui di sejumlah desa. Di antaranya wilayah Kecamatan Manyar. Cara mengolahnya pun sederhana. Satu bandeng kawak dibiarkan utuh. Mulai dari kepala hingga ekor.
Sebelum dimasak, ambil empedunya. Ingat, jangan sampai pecah empedu itu. Kalau pecah, bisa berpengaruh terhadap rasa. Jadi pahit. Sisik-sisik bandeng dibiarkan saja. Tidak perlu dibuang atau dikupas.
Selanjutnya, bandeng utuh itu dimasak dengan air sampai terendam. Campur asem, bawang putih geprek, kunyit iris tipis, lombok kecil, penyedap rasa, dan garam secukupnya. ’’Masak sampai air tersisa seperempat,’’ ujar Muniroh, salah seorang warga Manyar.
Begitu sudah masak, maka bandeng kawak itu siap disajikan utuh. Akan terasa lebih lezat, jika dihidangkan bersama sambal terasi plus mangga muda. Warga biasa menyebutnya dengan sambal pencit.
Lalu, dihidangkan pindang bandeng utuh, sambal pencit, dengan nasi putih hangat. Cocol. Wow! Rasanya, tidak perlu ditanya. Sudah pasti menggugah selera. Bisa-bisa satu piring nasi habis dalam sekejap.
Ternyata, menyantap bandeng utuh dengan olahan pindang itu juga menjadi tradisi warga Tionghoa saat merayakan Imlek. Dilansir dari situs Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan RI, berdasakan kepercayaan orang-orang Tionghoa pada umumnya selalu menyediakan 12 macam masakan dan 12 macam kue-kue, yang mewakili lambang-lambang shio berjumlah 12.
Hidangan yang dipilih biasanya mempunyai arti. Berkaitan dengan kemakmuran, panjang umur, kebahagiaan maupun keselamatan. Nah, salah satu hidangan utama adalah bandeng. Yang diartikan sebagai perlambang rezeki. Dalam logat Mandarin, kata ”ikan” sama bunyinya dengan kata ”yu”. Yang berarti rezeki. Karena itu, di banyak restoran Tionghoa, selalu ada akuarium ikan mas, sebagai lambang rezeki yang dilumuri emas berlimpah.
Alwi Shahab dalam buku Saudagar Baghdad dari Betawi, menjelaskan, kehadiran bandeng yang menjadi salah satu tradisi Imlek di kawasaan Jabodetabek merupakan perpaduan budaya China dan Betawi. Sebab, selain Tionghoa, Betawi juga memiliki tradisi yang menggunakan bandeng. Bedanya, dalam tradisi Betawi, ikan bandeng mentah dan segar menjadi antaran calon menantu ke mertuanya. Ukuran bandeng yang dibawa calon menantu ke calon mertua bisa menentukan kelanjutan perjodohan.
Tak heran jika setiap jamuan makan besar ala tradisi China, hidangan ikan selalu ditampilkan di akhir jamuan, sebagai lambang, rezeki berlimpah di masa mendatang. Biasanya ikan disajikan utuh dari kepala hingga ekor. Kepalanya seringkali diarahkan kepada tamu kehormatan yang hadir.
Sebagai bagian sejarah kuliner Indonesia, bandeng dalam perayaan Imlek biasanya juga diolah menjadi pindang bandeng. Olahan itu juga mempunyai sejumlah dongeng dan cerita.
Makna lainnya, bandeng memiliki duri banyak seperti kehidupan yang dijalani manusia. Duri banyak itu melambangkan kehidupan yang keras. Menjalani kehidupan yang keras membutuhkan kehati-hatian, kesabaran, ketelitian. Sama halnya dengan saat menyantap bandeng, butuh kehati-hatian dan ketelitian untuk mendapatkan nikmatnya daging bandeng.
Ketika dimasak, ekor dan kepala harus tetap utuh. Kenapa ekor dan kepala itu tidak boleh dibuang? Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, kepala dan ekor melambangakan berkah yang akan didapat di awal maupun akhir tahun mendatang.
Kandungan Gizi Ikan Bandeng
Masih mengacu situs Kementerian Kelautan dan Perikanan, kandungan gizi bandeng tidak diragukan lagi. Bahkan, disebut memiliki kandungan gizi jauh lebih baik dibandingkan ikan Salmon. Kandungan Omega-3 bandeng, ternyata enam kali lebih tinggi dibandingkan ikan Salmon.
Selain itu, kandungan lemak sehat dalam perut ikan bandeng, juga cukup tinggi. Dengan demikian, bisa menjadi pilihan terbaik ikan konsumsi.
Bandeng menjadi primadona dalam sajian Imlek. Memiliki filosofi bagian dari unsur-unsur alam yang harus ada sebagai simbol hidup hemat dan awet muda. Secara makna yang lebih mendalam adalah simbol penghormatan.
Dalam kepercayaan itu, seorang anggota keluarga yang tidak membawa ikan bandeng kepada orang yang lebih tua seperti kepada orang tua dan mertua dianggap tidak punya liangsim atau kesopanan.
Bandeng memiliki tubuh langsing. Sirip ekornya bercabang sehingga mampu berenang dengan cepat. Warna tubuhnya putih keperak-perakan. Mulut tidak bergerigi, Menyukai makanan ganggang biru yang tumbuh di dasar perairan (herbivora).
Bandeng merupakan ikan petualang yang suka merantau. Bandeng juga dikenal sebagai ikan air tawar. Habitat asli ikan bandeng sebenarnya di laut. Tetapi, ikan ini dapat hidup di air tawar maupun air payau. Namun, di Indonesia, habitat budidaya terus menyusut. Termasuk di Gresik.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
