Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 Maret 2026, 23.48 WIB

Miliki Dinding Setebal 1,2 Meter! Ini Keunikan Masjid Tua Katangka, Benteng Pertahanan Raja Gowa

Masjid Al-Hilal Katangka, Sulawesi Selatan. (Wikipedia) - Image

Masjid Al-Hilal Katangka, Sulawesi Selatan. (Wikipedia)

JawaPos.com - Sulawesi Selatan tidak hanya punya Pantai Losari. Di sudut Kabupaten Gowa, berdiri kokoh sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu awal mula cahaya Islam merasuk ke jantung Kerajaan Gowa. Nama resminya adalah Masjid Al-Hilal, namun masyarakat lebih mengenalnya sebagai Masjid Tua Katangka.

Bukan sekadar tempat ibadah, masjid yang dibangun sekitar tahun 1603 ini menyimpan rahasia arsitektur yang unik. Bayangkan saja, dalam satu bangunan, Anda bisa menemukan jejak budaya Jawa, Cina, Eropa, hingga Arab yang menyatu sempurna.

Satu hal yang paling mencolok saat menyentuh dinding masjid ini adalah ketebalannya. Tak main-main, dinding Masjid Katangka memiliki ketebalan hingga 120 sentimeter.

Ternyata, ada alasan heroik di baliknya. Dahulu, selain menjadi masjid, bangunan ini berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir bagi Raja Gowa dan pasukannya saat berhadapan dengan penjajah. Ketebalan dinding ini dirancang agar tahan terhadap gempuran serangan musuh pada masa perang.

Akulturasi 5 Budaya dalam Satu Kubah

Masjid ini adalah bukti nyata bahwa toleransi dan percampuran budaya sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Gaya bangunannya tidak menggunakan model suku Bugis maupun Makassar, melainkan mengadopsi struktur Joglo khas Jawa.

Jika melihat ke arah mimbar, suasananya akan berubah. Atap mimbarnya justru menyerupai bentuk atap klenteng khas Tiongkok. Di sekelilingnya, terpasang keramik-keramik antik yang dibawa langsung oleh arsitek asal Cina.

Tak berhenti di situ, pengaruh Eropa (Kolonial Belanda) terlihat jelas pada jendela besar berukuran 2 meter dan pilar silinder bergaya Doric Yunani yang megah.

Filosofi di Balik Angka

Setiap jengkal bangunan Masjid Tua Katangka ternyata memiliki makna mendalam bagi umat Muslim. Struktur bangunan ini dirancang sebagai pengingat akan rukun-rukun agama.

Atap dua lapis melambangkan dua kalimat syahadat. Sementara empat tiang penyangga sebagai simbol empat sahabat Nabi Muhammad SAW (Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali).

Kemudian enam jendela melambangkan rukun iman dan lima pintu menandakan rukun Islam.

Jejak Sejarah di Bawah Pohon Keramat

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore