Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Maret 2026, 22.40 WIB

Masjid Tuo Kayu Jao: Rahasia Bangunan Tanpa Paku yang Tetap Kokoh Sejak Abad ke-16 di Sumatera Barat

Masjid Tuo Kayu Jao. - Image

Masjid Tuo Kayu Jao.

JawaPos.com - Sumatera Barat tidak hanya soal kuliner rendang. Di ketinggian 1.152 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Kabupaten Solok, berdiri sebuah saksi bisu penyebaran Islam yakni Masjid Tuo Kayu Jao.

Bukan sekadar tempat ibadah, masjid yang dibangun sekitar tahun 1567 ini adalah keajaiban arsitektur. Bayangkan, di era konstruksi baja ringan sekarang, bangunan ini tetap kokoh berdiri meski material utamanya hanyalah kayu dan atap ijuk.

Sejarah mencatat masjid ini didirikan oleh dua tokoh besar, yakni Angku Masyhur dan Angku Labai. Keduanya dikenal memiliki suara yang sangat merdu saat mengumandangkan azan, memanggil warga di lembah Gunung Talang untuk bersujud.

Hingga kini, jejak keduanya masih terjaga. Angku Masyhur dimakamkan di area mihrab, sedangkan Angku Labai dimakamkan di Jirek, lokasi ia biasa beribadah di luar bangunan utama. Kedekatan makam pendiri dengan bangunan masjid menambah suasana religius yang kental bagi setiap peziarah yang datang.

Rahasia Arsitektur Tanpa Paku yang Anti-Gempa

Salah satu daya tarik utama Masjid Tuo Kayu Jao adalah teknik konstruksinya. Masjid ini dibangun menggunakan teknik pasak kayu tanpa paku, sebuah ciri khas arsitektur Minangkabau-Islam yang terbukti tangguh melintasi zaman.

Seluruh elemen mulai dari dinding, lantai, hingga 27 tiang penyangga menggunakan kayu pilihan seperti jao, banio, dan medang. Menariknya, jumlah tiang dan jendela di sini bukan sekadar angka, melainkan simbolisme mendalam.

27 Tiang melambangkan enam suku di sekitar masjid yang terdiri dari empat unsur pemerintahan ditambah tiga unsur agama (khatib, imam, dan bilal). Kemudian 13 Jendela diambil dari jumlah rukun salat dalam ajaran Islam.

Ciri khas lainnya ialah pada bagian atap yang terdapat tumpang tiga dari ijuk setebal 15 cm dengan bentuk sedikit cekung untuk mempercepat aliran air hujan di iklim tropis.

Suasana Asri di Jantung Nagari Batang Barus

Lokasi masjid ini sangat menenangkan. Dikelilingi aliran sungai kecil berair jernih, suara gemericik air menjadi musik alami yang menemani ibadah. Fasilitas wudhu pun masih memanfaatkan sumber mata air alami yang segar di sisi bangunan.

Meski telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2011, masjid ini tetap hidup. Ia bukan museum yang kaku, melainkan pusat pendidikan agama dan destinasi wisata religi yang ramah bagi siapa saja.

Warna catnya yang kini cokelat kehitaman justru mempertegas kesan antik dan megah, membuktikan bahwa ketahanan arsitektur tradisional mampu bersaing dengan gempuran zaman modern.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore