Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Maret 2025 | 19.16 WIB

Menelisik Sejarah 3 Masjid Ikonik di Tengah Kota Jakarta: 2 Peninggalan Kolonial, 1 Nyelip di Pusat Kesenian

Masjid Cut Meutia, menyisakan nuansa kolonial yang masih bisa dirasakan sampai saat ini. (RianAlfianto/JawaPos.com) - Image

Masjid Cut Meutia, menyisakan nuansa kolonial yang masih bisa dirasakan sampai saat ini. (RianAlfianto/JawaPos.com)

JawaPos.com – Mumpung bulan Ramadhan, kita akan membahas masjid-masjid yang ada di Jakarta. Masjid di Jakarta sendiri berjumlah ribuan. Mengutip laman Satu Data Kementerian Agama (Kemenag), jumlah masjid di Jakarta terakhir pada tahun 2023 adalah 3.824 masjid.

Bayangkan, ada begitu banyak masjid di Jakarta yang bisa bebas dipilih untuk sarana beribadah di sisa bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari.

Dari ribuan masjid yang ada di Jakarta, ada beberapa yang merupakan peninggalan sejarah dan ikonik. Perannya bisa dibilang cukup vital dalam sejarah peradaban Islam di Batavia saat itu, saat era kolonialisme sampai pada awal tahun 1970-an. 

Kita Akan mengulas tiga masjid ikonik yang punya sejarah menarik di Jakarta. Pertama adalah Masjid Amir Hamzah, yang terselip di kawasan Pusat Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Sedangkan dua lainnya merupakan peninggalan era kolonial. Yakni Masjid Cut Meutia dan Masjid Sunda Kelapa di Menteng.

  1. Masjid Amir Hamzah

Nama masjid Amir Hamzah memang kurang terdengar gaungnya di antara masjid-masjid lainnya yang ada di Jakarta.

Namun saat ditelusuri lebih lanjut, ternyata masjid tersebut merupakan masjid yang cukup bersejarah. Karena menjadi salah satu tempat lahirnya para pemikir-pemikir terkemuka di Indonesia yang akhirnya ambil bagian dalam memimpin negara.

Sejarawan Indonesia, JJ Rizal saat ditemui JawaPos.com saat Napak Tilas Jejak Ikonik Nusantara menerangkan, dalam rancangan awal pembangunan kawasan TIM sampai saat diresmikan pada 10 November 1968, masjid tidak ada di dalam pusat aktivitas kesenian di Jakarta.

Namun, sholat Jumat selalu berjalan di dalamnya dengan menggunakan ruang Teater Baru. Gubernur Jakarta saat itu Ali Sadikin, suka berkunjung secara mendadak di TIM dan kadang ikut ibadah Jumat di ruang teater.

"Dalam salah satu kesempatan itu, saat K.H. Mukhlas Rowi memberi khotbah, ia mengkritik kompleks bangunan TIM yang besar dan penting tetapi tidak memiliki masjid. Bang Ali yang terkenal galak bukan marah, tetapi sebagai pejabat gubernur justru berterima kasih telah diingatkan khatib. Setelah kelar sembahvang Jumat, itu bang Ali menyetujui usulan TIM mempunyai masjid," JJ Rizal membuka cerita sejarahnya.

Kemudian, Ali Sadikin memerintahkan Arsitek Ajip Rosidi sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) segera membuat rencananya sekaligus anggaran yang diperlukan.

Ajip pergi ke Bandung menemui Ahmad Noe'man. Pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini dipilih karena terkenal dipuji Presiden Sukarno yang juga seorang arsitek. 

Sukarno memuji desain masjid ITB yang dibawa Noe'man ke hadapannya di Istana kepresidenan Jakarta pada 1964.

Bahkan ia memberikan nama masjid itu, Salman untuk mengenang Salman al-Farisi, sahabat Nabi Muhammad SAW yang teknokrat Persia perancang pembangunan kanal dalam Perang Khandaq. 

Hal menarik dari pertemuan dua arsitek di Istana Presiden itu adalah, saat diskusi Sukarno bertanya mengapa tidak pakai kubah?

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore